PiES Research

Model Aktivasi Potensi Diri PiES (Physicall, Intellectual, Emotional, Spiritual)

PiES RESEARCH – Penelitian menunjukkan bahwa pemimpin yang bersikap toxic tidak hanya menurunkan semangat kerja, tetapi juga meningkatkan burnout dan mendorong karyawan terbaik meninggalkan organisasi. Kepemimpinan yang buruk bukan sekadar persoalan gaya memimpin, melainkan risiko strategis bagi keberlanjutan organisasi.

Madani, Didik K. 2026. Manajemen Aktivasi Potensi Diri melalui Pendekatan Physical, Intellectual, Emotional, Spiritual (PiES) dalam Penguatan Mental, Motivasi, dan Karakter Santri di Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) Amanatul Ummah Mojokerto. Disertasi. Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, Pascasarjana Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto. Promotor I: Prof. Dr. H. Sonhadji, Dip. Is, Ko-Promotor: Dr. Ammar Zainudin, M.PD.I

Kata Kunci: Aktivasi Potensi Diri, PiES, Mental, Motivasi, Karakter, Manajemen Pendidikan Islam, Santri, Model 5T.

Aktivasi potensi diri merupakan bagian penting dalam pembinaan dan pengembangan peserta didik karena tidak semua santri mampu mengenali potensi yang dimiliki, memahami keterbatasan diri, membangun orientasi hidup, serta mengembangkan kesiapan mental dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Pembinaan peserta didik yang selama ini cenderung berfokus pada aspek akademik dan kedisiplinan perlu diimbangi dengan penguatan mental, motivasi, dan karakter agar terbentuk pribadi yang berkembang secara utuh. Pendekatan Physical, Intellectual, Emotional, Spiritual (PiES) dipandang sebagai alternatif dalam mengelola proses aktivasi potensi diri melalui pengalaman belajar, refleksi diri, interaksi sosial, dan pembiasaan yang berlangsung dalam kehidupan pesantren.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) manajemen aktivasi potensi diri sebagai bagian dari pembinaan dan pengembangan peserta didik di Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) Amanatul Ummah Mojokerto; (2) pelaksanaan aktivasi potensi diri melalui pendekatan Physical, Intellectual, Emotional, Spiritual (PiES); dan (3) implikasi aktivasi potensi diri terhadap penguatan mental, motivasi, dan karakter santri.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus eksplanatori. Penelitian dilaksanakan di MBI Amanatul Ummah Mojokerto dengan melibatkan pimpinan, guru pembina, fasilitator, dan santri sebagai informan penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, pattern matching, dan triangulasi untuk menjamin keabsahan data.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) aktivasi potensi diri merupakan bagian penting dalam manajemen pembinaan dan pengembangan peserta didik karena membantu santri mengenali diri, memahami potensi dan keterbatasan, membangun orientasi hidup, mengembangkan kesiapan mental, serta membentuk karakter yang mendukung keberhasilan proses pendidikan; (2) pelaksanaan aktivasi potensi diri melalui pendekatan PiES berlangsung melalui proses pembinaan yang mengintegrasikan dimensi Physical, Intellectual, Emotional, dan Spiritual melalui pengalaman belajar, refleksi diri, interaksi sosial, dan pembiasaan dalam kehidupan pesantren; (3) aktivasi potensi diri berimplikasi terhadap penguatan mental, motivasi, dan karakter santri. Penelitian ini juga menemukan bahwa mental, motivasi, dan karakter berkembang secara saling berkaitan, di mana penguatan mental menjadi fondasi tumbuhnya motivasi intrinsik, sedangkan motivasi yang berkembang secara positif mendorong terbentuknya karakter yang lebih kuat dan berkelanjutan. Selain itu, penelitian ini menghasilkan temuan konseptual berupa Model Lima Tahap Aktivasi Potensi Diri (5T) yang terdiri atas Tasyakkur, Takwin, Tazkiyah, Tanfidz, dan Tajdid sebagai model pembinaan dan pengembangan peserta didik dalam perspektif Manajemen Pendidikan Islam. Model ini menjelaskan bahwa penguatan mental, motivasi, dan karakter berkembang melalui tahapan kesadaran yang saling berkaitan, dimulai dari kesadaran diri dan pengenalan potensi, pembentukan orientasi hidup, penguatan mental dan regulasi emosi, aktualisasi peran dan tanggung jawab, hingga pemaknaan hidup dan pembaruan komitmen diri.

 

Institute

Scroll to Top