PiES Review

Mengapa Karyawan Memilih Diam?

PiES Review – Penelitian terbaru menunjukkan bahwa keberanian karyawan untuk menyampaikan masalah bukan ditentukan oleh keberanian individu semata, melainkan oleh rasa aman secara psikologis yang dibangun organisasi melalui kepemimpinan yang etis dan budaya yang terbuka.

Ringkasan Penelitian

Organisasi sering kali menganggap tidak adanya keluhan sebagai tanda bahwa semuanya berjalan baik. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi tersebut belum tentu mencerminkan organisasi yang sehat. Bisa jadi karyawan memilih diam karena merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat, melaporkan kesalahan, atau mengungkapkan potensi risiko.

Penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Public Health (2024) ini melibatkan 621 pramugari maskapai penerbangan komersial di Tiongkok. Dengan menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), peneliti menguji hubungan antara psychological safety, employee voice behavior, ethical leadership, dan mindful safety practices.


Temuan Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological safety berperan penting dalam mendorong karyawan untuk berani menyampaikan ide, mengingatkan adanya risiko, serta melaporkan potensi masalah tanpa rasa takut. Karyawan yang merasa aman secara psikologis lebih aktif melakukan komunikasi keselamatan dan memberikan masukan yang bermanfaat bagi organisasi.

Penelitian ini juga menemukan bahwa komunikasi keselamatan antar rekan kerja (in-flight safety communication) dan perilaku menyampaikan masukan demi kepentingan organisasi (pro-social safety voice) berkontribusi positif terhadap praktik kerja yang lebih aman (mindful safety practices).

Selain itu, kepemimpinan yang etis terbukti memperkuat hubungan antara psychological safety dan komunikasi keselamatan. Sebaliknya, budaya organisasi yang sangat hierarkis (traditionality) cenderung melemahkan keberanian karyawan untuk menyampaikan persoalan kepada atasan.


Human Insight

Sebagian besar organisasi tidak kekurangan data.

Yang mereka kekurangan adalah keberanian orang untuk menyampaikan kenyataan.

Budaya diam sering kali muncul bukan karena karyawan tidak peduli, tetapi karena mereka memperkirakan bahwa berbicara akan membawa konsekuensi yang lebih besar daripada manfaatnya.

Mereka khawatir akan disalahkan, dipermalukan, diabaikan, atau bahkan dianggap sebagai pembuat masalah.

Akibatnya, informasi penting tidak pernah sampai kepada pengambil keputusan.

Padahal dalam banyak kasus, krisis bukan terjadi karena organisasi tidak memiliki informasi, melainkan karena informasi tersebut tidak pernah berani disampaikan.


Implikasi bagi Organisasi

Budaya diam merupakan salah satu bentuk Human Risk yang paling sulit dideteksi.

Organisasi dapat memiliki sistem pelaporan, audit internal, manajemen risiko, hingga kanal pengaduan yang lengkap. Namun semua sistem tersebut hanya akan efektif apabila orang merasa aman untuk menggunakannya.

Tanpa psychological safety, berbagai mekanisme pengendalian hanya menjadi prosedur administratif yang gagal menangkap persoalan nyata di lapangan.

Organisasi yang mampu membangun budaya speak up akan lebih cepat mengenali potensi risiko, mencegah kesalahan berulang, serta memperkuat proses pembelajaran organisasi.


Implikasi bagi Pemimpin

Pemimpin sering kali menilai keberhasilan dari minimnya konflik atau keluhan.

Padahal tidak adanya suara belum tentu menunjukkan tidak adanya masalah.

Justru organisasi yang sehat adalah organisasi yang memungkinkan anggotanya mengemukakan pendapat, mempertanyakan keputusan, melaporkan kesalahan, dan menyampaikan kekhawatiran tanpa rasa takut.

Penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang etis berperan penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang membuat karyawan merasa aman untuk berbicara.


Rekomendasi PiES

Berdasarkan hasil penelitian, organisasi perlu membangun budaya speak up melalui beberapa langkah berikut:

  • Mengembangkan psychological safety sebagai bagian dari budaya organisasi.
  • Membekali pemimpin dengan kemampuan mendengar secara terbuka dan tidak defensif.
  • Melindungi setiap individu yang melaporkan risiko atau kesalahan dari stigma maupun pembalasan.
  • Menjadikan pelaporan kesalahan sebagai kesempatan belajar dan perbaikan sistem, bukan sekadar dasar pemberian sanksi.
  • Mengevaluasi secara berkala apakah karyawan benar-benar merasa aman untuk menyampaikan persoalan.

Kesimpulan

Keberanian karyawan untuk berbicara bukan semata-mata ditentukan oleh karakter individu.

Keberanian tersebut tumbuh ketika organisasi berhasil membangun rasa aman secara psikologis melalui kepemimpinan yang etis dan budaya yang menghargai setiap suara.

Semakin tinggi psychological safety, semakin besar peluang organisasi memperoleh informasi penting sebelum risiko berkembang menjadi krisis.

Membangun budaya speak up bukan hanya tentang meningkatkan komunikasi, tetapi juga tentang menjaga keselamatan, kualitas keputusan, dan keberlanjutan organisasi.


Research → Human Insight → Better Decisions


Penelitian yang Direview

Hu, S., Nadeem, M. A., Luo, J., & Yi, X. (2024).

The Effects of Psychological Safety and Employee Voice Behavior on Flight Attendants’ Mindful Safety Practices Adoption.

Frontiers in Public Health, Volume 12 (2024).

Reviewed by

Didik Madani

Founder, PiES Institute

Published: Juli 2026

Reading Time: ±7 menit

Category: Human Risk • Leadership • Organizational Culture

Scroll to Top