Kita Mengajar Banyak Hal, Kecuali Menjadi Manusia (Blind Spot Pendidikan Indonesia)

Oleh: Didik Madani

Fenomena

Selama beberapa dekade terakhir, dunia pendidikan mengalami kemajuan yang luar biasa. Kurikulum terus diperbarui, teknologi pembelajaran berkembang pesat, kecerdasan buatan mulai hadir di ruang kelas, dan berbagai indikator mutu pendidikan terus ditingkatkan. Hampir semua aspek pendidikan berubah menjadi lebih modern.

Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul sebuah ironi yang semakin sulit diabaikan.

Semakin maju sistem pendidikan, semakin banyak anak muda yang mengalami kelelahan mental, kehilangan motivasi, kecemasan, bahkan kehilangan makna hidup.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa satu dari tujuh remaja berusia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental, sementara bunuh diri telah menjadi penyebab kematian ketiga pada kelompok usia 15–29 tahun. Di Indonesia, hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa sekitar satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental, atau sekitar 15,5 juta remaja. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,45 juta remaja telah memenuhi kriteria gangguan mental.

Angka-angka tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai statistik.

Di balik setiap angka ada seorang anak yang kehilangan semangat belajar. Ada seorang remaja yang merasa sendirian di tengah keramaian. Ada peserta didik yang setiap hari hadir di kelas, tetapi pikirannya dipenuhi kecemasan, sementara hatinya perlahan kehilangan harapan.

Fenomena ini ternyata bukan hanya menjadi perhatian para pendidik, tetapi juga para pemikir dunia.

Dalam The Burnout Society, filsuf Korea-Jerman Byung-Chul Han menggambarkan bahwa manusia modern telah bergeser dari disciplinary society menuju achievement society. Jika dahulu manusia hidup di bawah tekanan aturan dan larangan, kini manusia justru hidup di bawah tekanan untuk terus berprestasi, terus produktif, terus berkembang, dan terus membuktikan dirinya.

Ironisnya, tekanan itu bukan lagi datang dari orang lain, tetapi dari diri sendiri.

Akibatnya, burnout tidak lagi sekadar berarti kelelahan bekerja. Burnout menjadi bentuk kelelahan eksistensial ketika seseorang kehilangan ruang untuk beristirahat, kehilangan kesempatan menikmati hidup, bahkan kehilangan dirinya sendiri.

Persoalan tersebut semakin kompleks ketika dunia digital mengambil alih perhatian manusia.

Dalam bukunya Stolen Focus, Johann Hari menjelaskan bahwa krisis generasi muda bukan semata-mata disebabkan oleh lemahnya disiplin atau rendahnya motivasi belajar. Perhatian manusia kini menjadi komoditas yang diperebutkan oleh media sosial, algoritma, notifikasi, dan berbagai bentuk attention economy. Akibatnya, kemampuan untuk berkonsentrasi, berpikir mendalam, dan menikmati proses belajar semakin menurun.

Generasi hari ini bukan hanya kekurangan waktu, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk benar-benar hadir pada apa yang sedang mereka lakukan.

Kekhawatiran serupa disampaikan Jonathan Haidt dalam The Anxious Generation. Berdasarkan berbagai penelitian psikologi perkembangan, Haidt menunjukkan bahwa masa kanak-kanak yang dahulu dipenuhi permainan langsung, interaksi sosial, dan eksplorasi dunia nyata kini bergeser menjadi kehidupan yang didominasi telepon pintar dan media sosial. Perubahan tersebut berdampak pada meningkatnya kecemasan, depresi, kesepian, rendahnya kepercayaan diri, hingga melemahnya kemampuan regulasi emosi pada generasi muda.

Jika ketiga pemikiran tersebut dibaca secara utuh, kita menemukan satu benang merah.

Dunia tidak sedang menghadapi krisis akademik semata.

Dunia sedang menghadapi krisis kemanusiaan.

Persoalannya bukan lagi bagaimana membuat peserta didik semakin pintar.

Persoalannya adalah bagaimana menjaga agar mereka tetap sehat secara mental, kuat secara emosional, memiliki makna hidup, dan tidak kehilangan dirinya sendiri di tengah derasnya tuntutan zaman.

Di titik inilah muncul pertanyaan yang seharusnya menggugah dunia pendidikan.

Apakah pendidikan hari ini masih berfokus membentuk manusia, atau justru semakin sibuk mengejar prestasi, sementara manusia yang berada di dalamnya perlahan kehilangan dirinya sendiri?


Reflection

Selama ini kita terlalu sering bertanya,

“Bagaimana membuat anak semakin pintar?”

Padahal mungkin pertanyaan yang jauh lebih penting adalah,

“Bagaimana menjaga mereka tetap menjadi manusia yang utuh?”

Pendidikan modern bekerja sangat keras mengembangkan kemampuan berpikir. Kita mengajarkan matematika, sains, bahasa, teknologi, bahkan kecerdasan buatan. Namun tanpa disadari, kita semakin sedikit menyediakan ruang bagi anak-anak untuk memahami dirinya sendiri.

Mereka belajar menjawab soal, tetapi tidak selalu belajar menghadapi kecemasan.

Mereka belajar mengejar prestasi, tetapi tidak selalu belajar menerima kegagalan.

Mereka belajar bersaing, tetapi tidak selalu belajar menemukan makna.

Mereka belajar menjadi yang terbaik, tetapi tidak selalu belajar menjadi dirinya sendiri.

Akibatnya, lahirlah sebuah paradoks.

Generasi yang semakin cerdas, tetapi semakin mudah lelah.

Semakin terkoneksi, tetapi semakin kesepian.

Semakin kompetitif, tetapi semakin rapuh.

Semakin banyak tahu, tetapi semakin sedikit mengenal dirinya sendiri.

Mungkin inilah paradoks terbesar pendidikan hari ini.

Kita berhasil membangun sekolah yang lebih modern, tetapi belum tentu berhasil membangun manusia yang lebih utuh.

Daftar Isi
Scroll to Top