Pendidikan Sibuk Mengajar, Lupa Menjaga Manusia

Oleh: Didik Madani

Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya selama bertahun-tahun mendampingi santri dan mengamati dunia pendidikan serta perjalanan menjadi konsultan dan training SDM di korporasi khususnya dunia perbankan yang merupakan industri bertekanan tinggi. Mengapa banyak sistem pendidikan di Indonesia semakin baik, tetapi manusia yang menjalaninya justru semakin lelah?

Kita berbicara tentang kurikulum yang terus diperbarui. Kita mendiskusikan kepemimpinan sekolah, strategi pembelajaran, pemasaran pendidikan, akreditasi, hingga daya saing lembaga. Semua itu penting. Semua itu dibutuhkan.

Namun di tengah kesibukan memperbaiki sistem, sering kali ada satu hal yang luput kita jaga: manusia itu sendiri.

Padahal pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar proses transfer ilmu. Pendidikan adalah proses merawat amanah. Membantu manusia bertumbuh menjadi dirinya yang utuh. Sebagai pengasuh pesantren, saya menyaksikan bagaimana banyak anak muda datang dengan membawa harapan, potensi, sekaligus luka yang tidak terlihat. Mereka berusaha memenuhi tuntutan akademik, target hafalan, ekspektasi orang tua, pencarian jati diri, hingga tekanan untuk menjadi versi terbaik dari dirinya.

Sebagian mampu melewatinya dengan baik. Namun tidak sedikit yang diam-diam berjuang sendirian. Mereka tampak baik-baik saja, tetapi kehilangan semangat. Mereka tetap hadir di kelas, tetapi hatinya lelah. Mereka tetap tersenyum, tetapi bingung memahami dirinya sendiri.

Tulisan ini adalah bagian dari penelitian Disertasi saya yang membahasa Manajemen Aktivasi Potensi Diri Melalui Pendekatan PiES Physicall, Intellectual, Emotional, Spiritual). Mungkin inilah yang oleh Byung-Chul Han disebut sebagai burnout society, masyarakat yang kelelahan akibat tuntutan produktivitas tanpa henti. Mungkin inilah yang dijelaskan Johann Hari sebagai krisis perhatian, ketika manusia semakin sulit hadir sepenuhnya dalam hidupnya sendiri. Atau seperti yang diungkap Viktor Frankl, bahwa persoalan terbesar manusia modern bukan sekadar penderitaan, melainkan kehilangan makna.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di perusahaan besar atau kota metropolitan. Ia hadir di ruang kelas, asrama pesantren, rumah-rumah, bahkan dalam kehidupan anak-anak yang sedang tumbuh mencari arah.

Karena itu, saya mulai bertanya: Apakah pendidikan cukup hanya membentuk perilaku?

Bagaimana jika karakter yang tampak hanyalah permukaan dari kondisi mental yang rapuh?

Bagaimana jika motivasi belajar yang rendah sebenarnya merupakan tanda bahwa seorang anak sedang kehilangan makna?

Bagaimana jika banyak perilaku yang kita anggap sebagai masalah, sesungguhnya adalah cara seseorang meminta pertolongan?

Dari kegelisahan dan hasil riset menunjukan ada pola yang muncul bahwa mental, motivasi, dan karakter tidak dapat dipisahkan. Mental yang lemah dapat melemahkan motivasi. Motivasi yang hilang dapat memengaruhi perilaku. Sementara karakter yang kuat sering kali tumbuh dari mental yang stabil dan tujuan hidup yang bermakna. Sayangnya, ketiga aspek ini sering diperlakukan secara terpisah. Kita mengajarkan disiplin tanpa memahami luka. Kita menuntut prestasi tanpa membantu anak mengenali potensinya. Kita berharap muncul karakter yang baik tanpa menghadirkan ruang aman untuk bertumbuh. Padahal manusia tidak bekerja secara parsial. Manusia adalah kesatuan.

Kesadaran inilah yang kemudian melahirkan pencarian panjang tentang bagaimana pendidikan dapat membaca manusia secara lebih utuh. Melalui perjalanan tersebut, saya menemukan bahwa pembinaan peserta didik perlu dimulai dari pengenalan terhadap potensi dirinya; bagaimana ia berpikir, merasakan, memaknai hidup, serta menghadapi tekanan yang hadir dalam perjalanannya.

Dari sinilah pendekatan PiES (Physical, Intellectual, Emotional, Spiritual) dikembangkan. Bukan sebagai terapi. Bukan pula sekadar metode pelatihan motivasi. Tetapi sebagai upaya sederhana untuk membantu manusia kembali memahami dirinya secara utuh. Sebab sebelum karakter dibentuk, manusia perlu dipahami. Sebelum potensi dikembangkan, manusia perlu dikenalkan pada dirinya sendiri. Dan sebelum sistem diperbaiki, manusia yang menjalankan sistem perlu dijaga. Mungkin inilah tugas pendidikan yang paling mendasar.

Bukan sekadar menghasilkan lulusan yang berprestasi.

Tetapi menghadirkan manusia yang memiliki ketahanan mental, motivasi yang sehat, karakter yang kuat, dan integritas yang tetap terjaga ketika tidak ada seorang pun yang melihat dan ketika mereka besar dan memikul amanah di keluarga, masyarakat dan bangsa. Maka tak heran ketika melihat orang dewasa yang memikul peran dalam pekerjaan dan jabatan mereka gagal mempertahankan integeritasnya, karena dalam diam ada luka yang belum selesai mereka terima dan sadari di dalam dirinya.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang dikuasai. Tetapi tentang manusia seperti apa yang sedang kita bantu lahir ke dunia. Karena dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pintar. Dunia membutuhkan manusia yang tetap utuh.

Scroll to Top