PiES Review
Mengapa Orang Baik Bisa Melakukan Fraud?
PiES Review - Penelitian pada sektor perbankan Indonesia menunjukkan bahwa pencegahan fraud tidak cukup dilakukan melalui pengendalian internal, tetapi juga membutuhkan budaya integritas, kesadaran risiko, dan kualitas manusia yang menjalankan sistem.
Ringkasan Penelitian
Penelitian yang direview dilakukan oleh Nanang Shonhadji dan Soni Agus Irwandi dan dipublikasikan pada tahun 2024 dalam jurnal Banks and Bank Systems. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas strategi anti-fraud dalam mencegah fraud pada sektor perbankan Indonesia.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 217 responden yang berasal dari berbagai fungsi perbankan, antara lain accounting officer, marketing, customer service, teller, operational supervisor, dan risk management. Analisis dilakukan menggunakan teknik path analysis melalui WarpPLS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi anti-fraud memiliki pengaruh positif terhadap pencegahan fraud. Penelitian juga menemukan bahwa kebijakan whistleblowing, kepatuhan terhadap pengendalian internal, efektivitas manajemen risiko, serta faktor religiusitas berperan dalam memperkuat upaya pencegahan fraud.
Temuan Penting Penelitian
| Temuan | Makna |
|---|---|
| Strategi anti-fraud berpengaruh positif terhadap pencegahan fraud | Pencegahan fraud memerlukan pendekatan yang sistematis |
| Whistleblowing efektif mencegah fraud | Organisasi perlu menciptakan saluran pelaporan yang aman |
| Pengendalian internal berkontribusi terhadap pencegahan fraud | Sistem tetap menjadi fondasi penting |
| Manajemen risiko yang efektif menurunkan peluang fraud | Risiko perlu dipantau secara berkelanjutan |
| Religiusitas memperkuat efektivitas pencegahan fraud | Faktor nilai dan moral tetap berpengaruh terhadap perilaku manusia |
| Mempersempit peluang dan memperbesar risiko pelaku dapat mencegah fraud | Fraud sering terjadi ketika kesempatan masih tersedia |
Human Insight PiES
Penelitian ini memberikan pelajaran penting bahwa fraud tidak semata-mata lahir karena lemahnya sistem. Banyak organisasi beranggapan bahwa semakin banyak aturan, prosedur, dan pengawasan, maka fraud akan hilang dengan sendirinya. Namun kenyataannya, berbagai kasus fraud justru terjadi di organisasi yang memiliki sistem pengendalian yang relatif baik.
Human Insight yang dapat diambil adalah bahwa fraud pada dasarnya merupakan pertemuan antara kesempatan, pembenaran, tekanan, dan keputusan manusia. Sistem dapat mempersempit peluang, tetapi keputusan untuk melakukan atau tidak melakukan fraud tetap berada pada manusia.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pencegahan fraud yang efektif membutuhkan kombinasi antara sistem yang kuat dan lingkungan kerja yang mendorong integritas. Ketika budaya organisasi membiarkan pelanggaran kecil dianggap wajar, risiko fraud akan meningkat meskipun berbagai prosedur telah diterapkan.
Karena itu, pencegahan fraud tidak cukup dilakukan melalui penguatan prosedur, tetapi juga melalui pembangunan budaya integritas, kesadaran risiko, dan penguatan karakter individu yang menjalankan sistem tersebut.
Implikasi bagi Organisasi
Penelitian ini menunjukkan bahwa organisasi tidak dapat hanya mengandalkan teknologi, audit, dan regulasi dalam mencegah fraud.
Organisasi perlu membangun budaya yang mendorong keterbukaan, memperkuat fungsi whistleblowing, meningkatkan kualitas pengawasan, serta memastikan bahwa setiap individu memahami konsekuensi dari tindakan yang melanggar integritas.
Pencegahan fraud merupakan kombinasi antara sistem yang kuat dan manusia yang berintegritas.
Implikasi bagi Pemimpin
Jika Anda seorang pemimpin:
- Jangan menganggap fraud hanya sebagai masalah kepatuhan.
- Bangun budaya yang membuat pelanggaran sulit disembunyikan.
- Lindungi pelapor pelanggaran melalui sistem whistleblowing yang kredibel.
- Jadikan integritas sebagai bagian dari indikator kinerja organisasi.
- Kembangkan kesadaran risiko pada seluruh level organisasi.
- Pastikan setiap kebijakan anti-fraud didukung oleh keteladanan dari pimpinan.
Rekomendasi PiES
Berdasarkan penelitian ini, beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan adalah:
- Melakukan assessment Human Risk secara berkala.
- Mengukur tingkat kesadaran integritas dan risiko pada karyawan.
- Memperkuat budaya whistleblowing yang aman dan terpercaya.
- Mengintegrasikan pengembangan karakter dan integritas dalam program pengembangan SDM.
- Mengembangkan indikator Human Risk sebagai bagian dari sistem manajemen risiko organisasi.
- Mengukur budaya integritas sebagai indikator kesehatan organisasi.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa pencegahan fraud tidak hanya bergantung pada kualitas sistem pengendalian, tetapi juga pada kualitas manusia yang menjalankannya.
Human Insight PiES menegaskan bahwa organisasi yang ingin mengurangi fraud perlu membangun dua hal secara bersamaan: sistem yang kuat dan manusia yang berintegritas. Ketika salah satu diabaikan, risiko fraud akan tetap muncul meskipun berbagai prosedur telah diterapkan.
Pada akhirnya, fraud bukan hanya persoalan pengawasan, tetapi persoalan keputusan manusia. Karena itu, organisasi yang mampu menjaga integritas manusianya akan memiliki peluang lebih besar untuk menjaga keberlanjutan organisasinya.
Penelitian yang Direview
Penulis: Nanang Shonhadji & Soni Agus Irwandi
Tahun: 2024
Judul: Fraud Prevention in the Indonesian Banking Sector Using Anti-Fraud Strategy
Jurnal: Banks and Bank Systems
Volume: 19(1)
Halaman: 12–23
DOI: 10.21511/BBS.19(1).2024.02
Sampel: 217 Pegawai Bank
Metode: Kuantitatif, Path Analysis (WarpPLS)
Kategori: Human Risk
