
Rekan-rekan HR dan pimpinan di industri perbankan, pertanyaan ini bukan sekadar retoris. Ia menyentuh inti dari tata kelola, manajemen risiko, dan kualitas integritas organisasi.
Mencermati data dari Indonesia Anti-Scam Centre di bawah koordinasi Otoritas Jasa Keuangan periode 2024–2025, kita dihadapkan pada angka yang tidak kecil:
-
225.281 laporan scam dan fraud di sektor keuangan
-
Kerugian sekitar Rp 4,6 triliun
-
359.733 rekening terindikasi fraud
-
72.145 rekening diblokir sebagai tindakan pencegahan
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah sinyal.
Namun yang lebih penting dari angka adalah pertanyaan mendasar:
Mengapa fraud sering kali dilakukan oleh “orang pertama”?
Orang pertama di sini bukan berarti pelaku utama dalam arti kriminal besar. Yang dimaksud adalah orang dalam. Insan internal. Karyawan yang sejak awal dipercaya, diseleksi ketat, dilatih, dan dibekali nilai integritas.
Sejak 2012 saya masuk ke ruang-ruang pelatihan perbankan. Saya bertemu ribuan karyawan, dari frontliner hingga pimpinan cabang. Mereka adalah profesional yang terdidik, kompeten, dan pada awalnya memiliki komitmen moral yang kuat. Tetapi dari dialog panjang itu saya belajar satu hal penting:
Fraud hampir tidak pernah dimulai dari niat jahat yang besar.
Ia lebih sering lahir dari kombinasi yang jauh lebih manusiawi:
tekanan target, kelelahan mental, rasa tidak dihargai, dan pembenaran kecil yang terasa wajar.
Fraud jarang diawali dengan penggelapan besar. Ia sering bermula dari kalimat-kalimat yang terdengar ringan:
“Ini hanya sementara.”
“Nanti bisa diperbaiki.”
“Semua juga melakukan hal yang sama.”
Di situlah batas mulai bergeser.
Integritas tidak runtuh sekaligus. Ia melemah perlahan.
Standar pribadi tidak dihancurkan oleh sistem, tetapi dinegosiasikan oleh tekanan.
Dalam kerangka manajemen risiko, kita sering berbicara tentang internal control, audit trail, compliance monitoring, segregation of duties, dan whistleblowing system. Industri perbankan dikenal sebagai salah satu sektor dengan sistem kontrol paling ketat.
Namun sistem sekuat apa pun tetap bergantung pada kualitas manusia di dalamnya.
Ketika manusia lelah tanpa ruang refleksi,
ketika tekanan kinerja tidak diimbangi dukungan psikologis,
ketika budaya organisasi lebih menekankan angka dibanding makna,
maka risiko tidak hilang. Ia hanya menunggu celah.
Di titik itu, fraud bukan semata kegagalan kepatuhan.
Ia adalah kegagalan menjaga kejernihan.
Dalam praktiknya, saya melihat ada tiga lapisan penyebab yang sering tidak dibahas secara terbuka:
Pertama, tekanan struktural. Target agresif, kompetisi internal, dan ekspektasi berlapis dapat menciptakan beban kronis. Dalam kondisi mental yang lelah, rasionalisasi menjadi lebih mudah.
Kedua, erosi makna kerja. Ketika pekerjaan hanya dipersepsi sebagai rutinitas angka dan bukan amanah, maka nilai integritas tidak lagi terasa hidup. Ia menjadi slogan, bukan kesadaran.
Ketiga, isolasi psikologis. Banyak pelaku fraud bukan orang jahat. Mereka adalah orang baik yang terlalu lama menanggung tekanan sendirian tanpa ruang dialog yang aman.
Risiko terbesar dalam organisasi bukan selalu orang yang berniat buruk sejak awal. Sering kali ia adalah orang yang perlahan kehilangan keseimbangan. Karena itu, solusi tidak cukup hanya memperketat regulasi. Yang lebih mendasar adalah memperkuat arsitektur integritas manusia.
Dalam pendekatan PiES Human Integrity Architecture, pencegahan fraud tidak hanya dipandang sebagai isu compliance, tetapi sebagai isu ketahanan mental, kejernihan emosi, dan kesinambungan makna kerja. Integritas bukan sekadar aturan yang dipatuhi, tetapi kapasitas batin yang dijaga.
Organisasi yang ingin menekan risiko fraud secara berkelanjutan perlu bergerak dari sekadar kontrol menuju penjagaan manusia, Membangun ruang refleksi. Menguatkan mental non-klinis, Menjaga keseimbangan tekanan dan makna, Menumbuhkan budaya dialog yang aman.
Karena ketika manusia tetap utuh, sistem akan lebih kokoh, Tetapi ketika manusia retak di dalam, sistem sekuat apa pun akan mencari titik rapuhnya.
Pertanyaannya sekarang bukan hanya bagaimana memperketat pengawasan, melainkan bagaimana menjaga orang pertama tetap jernih di bawah tekanan.
Bagaimana menurut rekan-rekan di industri perbankan?
Apakah kita sudah cukup menjaga sistem, atau justru belum cukup menjaga manusianya?
Didik Madani
Keyword
Fraud perbankan, manajemen risiko, integritas organisasi, tekanan kerja, burnout karyawan, internal control, compliance perbankan, tata kelola perbankan, human integrity architecture, pencegahan fraud, budaya integritas, risiko operasional, mental resilience perbankan, governance dan risk management, peran HR dalam pencegahan fraud.