PiES Review
Mengapa Pemimpin Menjadi Toxic?
PiES Review – Penelitian menunjukkan bahwa pemimpin yang bersikap toxic tidak hanya menurunkan semangat kerja, tetapi juga meningkatkan burnout dan mendorong karyawan terbaik meninggalkan organisasi. Kepemimpinan yang buruk bukan sekadar persoalan gaya memimpin, melainkan risiko strategis bagi keberlanjutan organisasi.
Ringkasan Penelitian
Penelitian yang direview dilakukan oleh Abiúd Nunes dan Ana Palma-Moreira, dipublikasikan pada tahun 2024 dalam jurnal Administrative Sciences (MDPI).
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh toxic leadership terhadap turnover intention, serta menguji apakah burnout syndrome menjadi mekanisme yang menjelaskan hubungan tersebut.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif terhadap 309 responden yang bekerja di berbagai organisasi di Portugal dan Angola. Analisis dilakukan menggunakan Path Analysis untuk menguji hubungan antarvariabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa toxic leadership secara signifikan meningkatkan burnout dan turnover intention. Burnout, khususnya dimensi disengagement, terbukti menjadi mediator yang menjelaskan mengapa karyawan akhirnya memilih meninggalkan organisasi.
Temuan Penting Penelitian
| Temuan | Makna |
|---|---|
| Toxic leadership meningkatkan burnout | Kepemimpinan yang buruk menguras energi psikologis karyawan. |
| Toxic leadership meningkatkan turnover intention | Karyawan lebih terdorong mencari pekerjaan lain. |
| Disengagement memediasi hubungan tersebut | Karyawan mulai “menarik diri” sebelum memutuskan resign. |
| Kurangnya dukungan dan apresiasi mempercepat burnout | Pengakuan dan kepedulian pemimpin berpengaruh besar terhadap kesehatan psikologis bawahan. |
| Gaya kepemimpinan merupakan faktor strategis organisasi | Masalah kepemimpinan berdampak langsung pada retensi talenta. |
⭐ Human Insight PiES
Banyak organisasi menganggap keluarnya karyawan terbaik sebagai persoalan kompensasi, peluang karier, atau tawaran dari perusahaan lain. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa akar masalahnya sering kali berada lebih dekat: cara seorang pemimpin memperlakukan timnya.
Karyawan umumnya tidak langsung memutuskan untuk keluar. Mereka terlebih dahulu kehilangan keterikatan emosional terhadap pekerjaannya. Dukungan yang berkurang, penghargaan yang tidak diberikan, komunikasi yang merendahkan, dan perilaku yang tidak konsisten perlahan menguras energi psikologis mereka. Proses inilah yang disebut disengagement, dan penelitian ini menunjukkan bahwa disengagement menjadi jembatan menuju keputusan untuk meninggalkan organisasi.
Human Insight PiES yang dapat diambil adalah:
Karyawan jarang meninggalkan organisasi secara tiba-tiba. Mereka lebih dahulu kehilangan semangat karena cara mereka dipimpin.
Toxic leadership bukan hanya persoalan karakter individu, tetapi Human Risk yang dapat menggerus budaya organisasi, menghilangkan talenta terbaik, dan melemahkan daya saing dalam jangka panjang.
Implikasi bagi Organisasi
Penelitian ini menunjukkan bahwa investasi pada sistem, teknologi, dan proses tidak akan memberikan hasil optimal apabila kualitas kepemimpinan diabaikan.
Organisasi perlu menjadikan perilaku kepemimpinan sebagai bagian dari manajemen risiko. Evaluasi terhadap pemimpin seharusnya tidak hanya didasarkan pada pencapaian target bisnis, tetapi juga pada dampaknya terhadap kesehatan psikologis, keterlibatan, dan retensi karyawan.
Implikasi bagi Pemimpin
Jika Anda seorang pemimpin:
- Bangun hubungan yang didasarkan pada rasa hormat dan kepercayaan.
- Berikan pengakuan atas kontribusi tim secara konsisten.
- Hindari kepemimpinan yang mengendalikan melalui rasa takut.
- Jadikan komunikasi sebagai sarana membangun, bukan menjatuhkan.
- Sadari bahwa perilaku sehari-hari Anda membentuk budaya organisasi.
Rekomendasi PiES
Berdasarkan penelitian ini, beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan adalah:
- Melakukan Leadership Behavior Assessment secara berkala.
- Mengukur tingkat burnout dan disengagement karyawan.
- Mengintegrasikan indikator Human Risk dalam evaluasi kepemimpinan.
- Mengembangkan program coaching bagi para pemimpin.
- Membangun budaya umpan balik dua arah yang aman dan konstruktif.
- Menjadikan kualitas kepemimpinan sebagai bagian dari strategi retensi talenta.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa toxic leadership tidak hanya berdampak pada hubungan antara atasan dan bawahan, tetapi juga memengaruhi kesehatan psikologis, keterikatan kerja, dan keputusan karyawan untuk bertahan atau meninggalkan organisasi.
Human Insight PiES menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar kemampuan mencapai target, tetapi kemampuan menjaga manusia tetap bertumbuh. Organisasi yang ingin mempertahankan talenta terbaik perlu membangun pemimpin yang mampu menciptakan rasa aman, penghargaan, dan makna dalam bekerja. Ketika kepemimpinan menjadi sehat, kinerja dan loyalitas bukan lagi hasil paksaan, melainkan konsekuensi alami dari hubungan yang dibangun dengan integritas.
Research → Human Insight → Better Decisions
Penelitian yang Direview
Penulis: Abiúd Nunes & Ana Palma-Moreira
Tahun: 2024
Judul: Toxic Leadership and Turnover Intentions: The Role of Burnout Syndrome
Jurnal: Administrative Sciences (MDPI)
Volume: 14(12)
Artikel: 340
DOI: 10.3390/admsci14120340
Sampel: 309 karyawan di Portugal dan Angola
Metode: Kuantitatif, Path Analysis
Kategori: Leadership & Culture
Reviewed by
Didik Madani
Founder, PiES Institute
