PiES Review
Sekolah Sibuk Mengukur Nilai, tapi Bagaimana dengan Perkembangan Mental, Motivasi, dan Karakter Siswa?

Oleh Dr. Didik Madani
Selama ini sekolah sibuk mengukur prestasi akademik. Nilai ujian, rapor, capaian kompetensi, kehadiran, dan berbagai bentuk prestasi menjadi bagian penting dalam kehidupan pendidikan. Semua itu tentu penting karena sekolah membutuhkan ukuran untuk mengetahui sejauh mana proses pembelajaran telah mencapai tujuan yang ditetapkan. Namun, setelah menyelesaikan penelitian doktoral tentang Manajemen Aktivasi Potensi Diri melalui Implementasi Program PiES untuk Menguatkan Mental, Motivasi, dan Karakter Santri, saya justru semakin melihat adanya pertanyaan yang lebih mendasar: apakah ukuran yang selama ini digunakan sekolah sudah cukup untuk menggambarkan pertumbuhan seorang anak sebagai manusia?
Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan prestasi akademik dengan aspek lain dalam pendidikan. Prestasi tetap penting dan kemampuan intelektual tetap harus dikembangkan. Namun, seorang peserta didik bukan hanya angka yang tercatat dalam rapor. Di balik angka tersebut terdapat manusia yang sedang bertumbuh, sedang membentuk cara pandang terhadap dirinya, belajar menghadapi tekanan, membangun kepercayaan diri, menemukan motivasi, mengembangkan karakter, dan perlahan menentukan arah kehidupannya.
Dalam penelitian yang saya lakukan di MBI Amanatul Ummah Mojokerto, perhatian saya berangkat dari persoalan bagaimana potensi diri peserta didik dapat diaktifkan melalui proses pendidikan. Dari sana saya semakin memahami bahwa pengembangan peserta didik tidak cukup jika hanya dilihat dari pencapaian akademik. Ada dimensi internal manusia yang ikut menentukan bagaimana seorang anak menjalani proses pendidikan, yaitu mental, motivasi, dan karakter. Ketiganya bukan sekadar pelengkap dari prestasi akademik, tetapi bagian penting dari proses pertumbuhan manusia.
Seorang siswa yang nilainya menurun, misalnya, tentu dapat dipandang dari sisi akademik. Sekolah dapat melihat perubahan nilai dari 85 menjadi 70 dan kemudian mencari penyebabnya melalui kemampuan belajar, kedisiplinan, atau penguasaan materi. Tetapi apakah angka tersebut sudah menjelaskan seluruh persoalan? Bisa jadi siswa tersebut memang mengalami kesulitan memahami pelajaran. Namun bisa juga ia sedang kehilangan motivasi, menghadapi tekanan, mengalami perubahan hubungan sosial, kehilangan kepercayaan diri, atau sedang menghadapi persoalan lain yang tidak terlihat dari nilai akademiknya. Nilai memberi kita informasi tentang hasil, tetapi belum tentu memberikan gambaran lengkap tentang apa yang sedang terjadi pada manusia yang menghasilkan nilai tersebut.
Hal yang sama sebenarnya terjadi pada siswa yang berprestasi. Prestasi sering kali menjadi tanda bahwa seorang anak berada dalam kondisi yang baik. Namun, prestasi akademik tidak selalu identik dengan kesejahteraan, kematangan, atau kesiapan mental seorang peserta didik. Seorang anak dapat mencapai nilai tinggi sekaligus mengalami tekanan yang tidak terlihat. Karena itu, persoalannya bukan apakah sekolah harus mengukur prestasi atau tidak. Persoalannya adalah apakah sekolah juga memiliki perhatian yang memadai terhadap proses pertumbuhan manusia di balik prestasi tersebut.
Menariknya, guru sebenarnya sering kali sudah mengetahui perubahan itu. Guru mengenal muridnya melalui interaksi sehari-hari. Guru dapat merasakan ketika seorang anak yang biasanya aktif mulai diam, ketika siswa yang sebelumnya bersemangat mulai kehilangan minat, atau ketika perilaku seorang anak berubah secara perlahan. Banyak informasi tentang perkembangan siswa sebenarnya telah hidup dalam pengalaman para guru. Namun, pengetahuan tersebut sering kali berhenti sebagai pengamatan individual dan belum selalu menjadi informasi perkembangan peserta didik yang dapat dibaca secara sistematis oleh sekolah.
Di sinilah saya melihat persoalan yang lebih besar dalam manajemen pendidikan. Sekolah mungkin tidak kekurangan data. Sekolah memiliki data nilai, kehadiran, prestasi, pelanggaran, dan berbagai indikator akademik maupun administratif lainnya. Tetapi apakah sekolah juga memiliki gambaran yang cukup tentang bagaimana peserta didiknya berkembang sebagai manusia? Apakah sekolah dapat mengetahui ketika motivasi seorang siswa mulai menurun, ketika mentalnya mulai mengalami tekanan, atau ketika proses pembentukan karakternya membutuhkan perhatian lebih serius?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting karena peserta didik saat ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka hidup dalam arus informasi yang sangat cepat, berada dalam lingkungan digital, menghadapi kompetisi yang semakin tinggi, dan berhadapan dengan berbagai tuntutan sosial yang dapat memengaruhi cara mereka memahami diri sendiri. Pendidikan akhirnya tidak hanya menghadapi tantangan bagaimana membuat siswa lebih pintar, tetapi juga bagaimana membantu mereka tetap memiliki ketahanan, arah, motivasi, dan karakter ketika menghadapi perubahan.
Dalam perspektif pendidikan Islam, persoalan tersebut sebenarnya bukan gagasan yang sepenuhnya baru. Pendidikan sejak awal tidak hanya diarahkan pada penguasaan ilmu, tetapi juga pada pembentukan manusia. Tradisi pemikiran pendidikan Islam menempatkan pembinaan jiwa, adab, akhlak, kesadaran, dan pengembangan potensi manusia sebagai bagian penting dari proses pendidikan. Al-Ghazali, misalnya, memandang pendidikan sebagai proses pembinaan dan penyucian jiwa yang berkaitan dengan pembentukan akhlak. Karena itu, ketika kita berbicara tentang pendidikan, pertanyaan tentang manusia yang sedang dibentuk tidak seharusnya berada di luar pembicaraan tentang manajemen pendidikan.
Penelitian doktoral saya kemudian membawa saya pada satu pemahaman bahwa aktivasi potensi diri bukanlah sekadar proses menemukan kelebihan seseorang. Potensi perlu dikenali, disadari, diarahkan, diperkuat, diwujudkan, dan terus diperbarui melalui pengalaman kehidupan. Dalam proses tersebut, mental, motivasi, dan karakter memiliki hubungan yang sangat erat. Potensi yang tidak disertai ketahanan mental dapat sulit diwujudkan. Motivasi yang tidak memiliki arah dapat mudah berubah. Pengetahuan tentang nilai yang tidak menjadi karakter juga belum tentu menghasilkan tindakan nyata.
Karena itu, saya mulai melihat bahwa pengembangan peserta didik membutuhkan cara pandang yang lebih utuh. Mental, motivasi, dan karakter tidak seharusnya diperlakukan sebagai tiga persoalan yang berdiri sendiri. Ketiganya merupakan bagian dari proses perkembangan manusia yang saling berhubungan. Apa yang terjadi pada mental dapat memengaruhi motivasi. Motivasi dapat memengaruhi keterlibatan seseorang dalam belajar dan bertindak. Sementara karakter menentukan bagaimana seseorang membawa nilai dan kesadaran tersebut ke dalam perilaku nyata.
Dari sinilah muncul pertanyaan yang lebih besar bagi manajemen pendidikan: jika sekolah selama ini telah memiliki sistem untuk mengelola pencapaian akademik, bagaimana sekolah mengelola pertumbuhan manusianya? Bagaimana perkembangan mental, motivasi, dan karakter dapat dipahami secara lebih sistematis tanpa mengubah guru menjadi sekadar pengumpul data? Bagaimana informasi yang sebenarnya sudah dimiliki guru dapat diolah menjadi pemahaman yang membantu sekolah mengambil keputusan yang lebih tepat bagi perkembangan peserta didik?
Saya kira pendidikan masa depan tidak harus memilih antara student achievement dan student human development. Keduanya justru perlu ditempatkan dalam hubungan yang lebih seimbang. Sekolah tetap perlu mengetahui seberapa baik seorang siswa mencapai target akademiknya, tetapi sekolah juga perlu memahami bagaimana siswa tersebut bertumbuh selama menjalani proses pendidikan. Dengan kata lain, kita perlu bergerak dari pertanyaan tentang apa yang berhasil dicapai siswa menuju pertanyaan tentang manusia seperti apa yang sedang tumbuh melalui proses pendidikan tersebut.
Perubahan cara pandang ini mungkin terlihat sederhana, tetapi implikasinya cukup besar. Ketika sekolah mulai melihat peserta didik sebagai manusia yang sedang bertumbuh, maka nilai tidak lagi hanya menjadi angka akhir, melainkan salah satu informasi dalam membaca perjalanan siswa. Perubahan perilaku tidak hanya dipandang sebagai persoalan disiplin, tetapi juga sebagai kemungkinan tanda bahwa ada sesuatu yang perlu dipahami. Hilangnya motivasi tidak langsung diberi label sebagai kemalasan, tetapi menjadi pertanyaan tentang apa yang sedang terjadi dalam diri siswa. Demikian pula prestasi tidak hanya dirayakan sebagai hasil, tetapi juga menjadi kesempatan untuk melihat apakah anak tersebut berkembang secara utuh.
Pada titik inilah saya merasa bahwa pekerjaan pendidikan sebenarnya belum selesai ketika kita berhasil mengukur hasil. Justru setelah mampu mengukur hasil, kita perlu belajar membaca proses pertumbuhan yang melahirkannya. Sekolah tidak cukup hanya mengetahui siapa yang berprestasi. Sekolah perlu memahami bagaimana setiap peserta didik bertumbuh.
Mungkin karena itu pertanyaan pendidikan ke depan bukan hanya, “Berapa nilai anak ini?”, tetapi juga, “Bagaimana keadaan mentalnya, bagaimana motivasinya, dan bagaimana karakternya sedang berkembang?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk memberi label kepada siswa, melainkan untuk memastikan bahwa pendidikan benar-benar hadir sebagai proses pembentukan manusia.
Bagi saya, inilah salah satu pekerjaan besar pendidikan ke depan: membawa manusia kembali ke pusat manajemen pendidikan. Bukan berarti meninggalkan kurikulum, prestasi, standar, atau sistem pengukuran akademik, tetapi melengkapinya dengan kemampuan untuk memahami manusia yang menjalani seluruh proses tersebut. Sebab pada akhirnya, sekolah bukan hanya menghasilkan nilai, tetapi menghasilkan manusia yang akan membawa nilai-nilai pendidikan itu ke dalam kehidupan.
Dan mungkin sudah waktunya kita bertanya kembali: setelah begitu lama belajar mengukur pencapaian, apakah sekolah sudah cukup belajar membaca pertumbuhan?
Pertanyaan inilah yang kemudian membawa saya pada agenda intelektual setelah menyelesaikan pendidikan doktoral: bagaimana memahami dan mengembangkan manusia bukan hanya dari apa yang telah dicapainya, tetapi dari potensi yang dimilikinya dan proses bagaimana potensi tersebut diaktualisasikan.
Saya menyebut pendekatan ini sebagai Aktivasi Potensi Diri (Human Potential Activation).
Bagi saya, Aktivasi Potensi Diri bukan sekadar upaya menemukan kelebihan seseorang. Ia merupakan proses bagaimana manusia mengenali dirinya, menyadari potensinya, membangun kekuatan mental, menemukan dan menjaga motivasinya, membentuk karakter, kemudian mengarahkan potensi tersebut menjadi tindakan dan pertumbuhan yang bermakna.
Dari penelitian doktoral tersebut, saya ingin membawa satu agenda yang lebih luas ke dalam percakapan pendidikan dan pengembangan manusia:
Bagaimana pendidikan tidak hanya membantu manusia mencapai sesuatu, tetapi juga membantu manusia menjadi seseorang.
Inilah wilayah pemikiran dan riset yang ingin saya kembangkan bersama PiES Institute ke depan: Aktivasi Potensi Diri dan Pengembangan Manusia.
Dr. Didik Madani
Pakar Aktivasi Potensi Diri & Pengembangan Manusia
Founder, PiES Institute
Human Insight for Leaders
Understanding People. Growing Organizations.