Mengapa Semakin Banyak Manusia Kehilangan Dirinya Sendiri?

Tepat pada 5 Juni 2026, saya menyelesaikan makalah disertasi yang telah saya perjuangkan selama beberapa tahun terakhir. Menariknya, tanggal itu bertepatan dengan hari lahir Graha Qur’an Madani yang enam tahun lalu berdiri pada 5 Juni 2020.

Saya tidak tahu apakah itu sebuah kebetulan atau cara Allah mengingatkan saya tentang sebuah perjalanan. Perjalanan yang ternyata bukan hanya tentang menyelesaikan studi doktoral, tetapi juga perjalanan memahami manusia.

Beberapa hari sebelum menyelesaikan makalah disertasi itu, telepon genggam saya hilang. Semua kontak ikut hilang. Awalnya saya merasa terganggu. Ada banyak pekerjaan yang tertunda, komunikasi yang terputus, dan aktivitas yang harus diulang dari awal. Namun setelah saya renungkan, mungkin ada hikmah yang sedang Allah ajarkan.

Saya menjadi lebih tenang, lebih fokus, dan lebih sedikit terdistraksi. Untuk beberapa waktu, saya seperti dipaksa berhenti dari hiruk pikuk dunia digital yang selama ini terus mengejar perhatian saya.

Ketika akhirnya saya kembali membuka telepon genggam dan media sosial, berbagai berita viral kembali memenuhi layar. Ada perdebatan tentang program makan bergizi gratis yang menyedot perhatian publik. Ada polemik anggaran negara. Ada konflik politik. Ada berbagai drama yang setiap hari datang silih berganti.

Hari ini ramai.

Besok mungkin sudah dilupakan.

Saya memperhatikan semua itu, tetapi entah mengapa hati saya tidak lagi terlalu tertarik pada perdebatan-perdebatan tersebut. Saya justru merasa lelah. Bukan karena berita itu penting atau tidak penting, tetapi karena saya melihat ada sesuatu yang lebih mendasar yang jarang dibicarakan.

Di negeri yang mayoritas penduduknya beragama, mengapa korupsi masih terus berulang? Mengapa banyak pejabat yang disumpah atas nama Tuhan justru kesulitan menjaga amanahnya? Mengapa banyak karyawan memulai pekerjaan dengan semangat, tetapi beberapa tahun kemudian kehilangan energi dan gairah hidupnya? Mengapa banyak manajer dan pemimpin terlihat berhasil, tetapi diam-diam mengalami kekosongan arah dan makna?

Di sisi lain, semakin banyak anak muda mengalami burnout dan kehilangan arah hidup. Perceraian meningkat. Pinjaman online semakin menjerat banyak keluarga. Banyak orang terlihat sukses, tetapi tidak bahagia. Banyak yang terus memburu pengakuan, validasi, dan perhatian dari orang lain. Dan yang paling membuat saya merenung, begitu banyak manusia tampak baik-baik saja di luar, tetapi diam-diam sedang berjuang menghadapi dirinya sendiri.

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala saya.

Saya juga melihat semakin banyak orang yang kelelahan tanpa benar-benar memahami penyebab kelelahan itu. Mereka terus memacu diri, terus membandingkan hidupnya dengan orang lain, terus mengejar sesuatu yang tidak pernah selesai. Mereka lelah, tetapi tidak berani berhenti. Mereka merasa kosong, tetapi terus mencari pelarian. Mereka kehilangan arah, tetapi tetap berlari.

Tanpa sadar, hidup mereka semakin dipenuhi distraksi. Mereka sibuk melihat berapa banyak orang yang menyukai unggahannya, berapa banyak yang menonton videonya, dan seberapa jauh dirinya diterima oleh dunia. Mereka mencari ketenangan di tempat yang justru membuat hatinya semakin gelisah.

Di tengah kegelisahan itu, jawaban-jawaban kecil mulai muncul dari perjalanan penelitian yang baru saja saya selesaikan.

Selama ini kita sering membahas mental. Kita juga sering membahas motivasi. Sebagian lagi berbicara tentang karakter dan integritas. Namun semuanya sering berjalan sendiri-sendiri. Padahal manusia tidak hidup dalam potongan-potongan seperti itu.

Seseorang bisa memiliki motivasi yang tinggi, tetapi mentalnya rapuh. Seseorang bisa memiliki karakter yang baik, tetapi menyimpan luka yang belum selesai. Seseorang bisa memahami mana yang benar, tetapi tetap kesulitan menjalankannya ketika berhadapan dengan tekanan hidup.

Semakin saya merenung, semakin saya menyadari bahwa banyak persoalan manusia modern mungkin bukan sekadar persoalan pengetahuan, keterampilan, atau bahkan motivasi. Mungkin persoalan yang lebih mendasar adalah bahwa manusia perlahan kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.

Ia tidak benar-benar mengenali potensi yang Allah titipkan. Ia tidak memahami luka yang membentuk cara berpikir dan cara hidupnya. Ia tidak menyadari arah perjalanan yang sedang dijalaninya. Dan ketika hubungan dengan diri sendiri mulai hilang, maka hubungan dengan keluarga, pekerjaan, masyarakat, bahkan dengan Tuhannya pun perlahan ikut terganggu.

Dari kegelisahan itulah tulisan ini bermula. Bukan untuk menghakimi siapa pun. Bukan pula untuk menyalahkan zaman. Saya justru ingin mengajak diri saya sendiri, dan mungkin juga Anda yang sedang membaca tulisan ini, untuk berhenti sejenak dari kebisingan yang terus berebut perhatian kita.

Mungkin kita tidak perlu selalu berlari lebih cepat.

Mungkin kita tidak perlu selalu mengejar target berikutnya.

Mungkin yang kita butuhkan saat ini hanyalah jeda.

Jeda untuk bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:

Siapa sebenarnya diri saya?

Apa yang sebenarnya sedang saya kejar?

Dan amanah apa yang sesungguhnya Allah titipkan dalam hidup saya?

Karena bisa jadi, kelelahan yang selama ini kita rasakan bukan karena hidup terlalu berat. Tetapi karena kita terlalu lama berjalan tanpa benar-benar mengenali diri yang sedang menjalani perjalanan itu.

Didik Madani

Scroll to Top