Didik Madani: Saat Kinerja Tidak Lagi Bisa Didorong dengan Target.

Sebuah Catatan untuk Pemilik dan Pimpinan Perusahaan di Era Kelelahan Jiwa (Burnout) 

Oleh: Didik Madani PiES

Di banyak ruang rapat hari ini, satu pertanyaan terus berulang: mengapa karyawan kami semakin sulit didorong, padahal sistem, target, dan insentif sudah diperbaiki? Jawaban jujurnya sering kali tidak nyaman—karena masalahnya bukan pada kompetensi, melainkan pada ketahanan mental, kejernihan makna, dan stabilitas batin manusia yang menjalankan sistem itu sendiri.

Berbagai riset global menunjukkan bahwa dunia kerja telah memasuki fase burnout society: kelelahan mental, kejenuhan emosional, dan krisis makna yang tidak selalu tampak di permukaan. Karyawan tetap hadir, tetap bekerja, bahkan tetap mencapai target—namun di dalam dirinya terjadi penurunan energi hidup, keberanian mengambil inisiatif, dan rasa memiliki terhadap pekerjaan. Produktivitas berjalan, tetapi jiwa tidak lagi ikut bekerja.

Sebagian organisasi merespons kondisi ini dengan pelatihan teknis lanjutan, insentif baru, atau penajaman KPI. Sayangnya, pendekatan ini sering kali hanya menyentuh lapisan luar manusia—fisik dan intelektual—tanpa menyentuh akar persoalan di wilayah mental, emosional, dan spiritual. Di sinilah banyak program pengembangan SDM berhenti bekerja secara jangka panjang.

PIES 5.0 Meaningful Journey lahir dari kesadaran bahwa manusia tidak bisa dipulihkan hanya dengan dorongan target, tetapi dengan pengembalian makna dan keseimbangan diri. Metode ini dikembangkan melalui riset ilmiah berbasis Grounded Theory, yang menelusuri secara mendalam bagaimana manusia membangun kembali ketangguhan mental, motivasi intrinsik, dan karakter kerja yang berkelanjutan. PIES tidak memposisikan karyawan sebagai “sumber daya”, melainkan sebagai manusia utuh dengan empat dimensi: Physical, Intellectual, Emotional, dan Spiritual.

Yang membedakan PIES 5.0 dari pelatihan konvensional adalah pendekatannya sebagai perjalanan kesadaran, bukan sesi motivasi sesaat. Peserta tidak diajak untuk “bersemangat sementara”, melainkan untuk memahami dirinya sendiri—pola stresnya, potensi terpendamnya, tipe kepribadiannya, serta cara mengelola tekanan kerja tanpa kehilangan arah hidup. Di dalamnya terdapat Tes Mental Indicator dan Tes Potensi Diri PIES yang membantu organisasi membaca stabilitas mental karyawan secara lebih objektif di era kelelahan psikologis.

Bagi pimpinan perusahaan, investasi pada pelatihan semacam ini bukan sekadar agenda pengembangan SDM, melainkan strategi keberlanjutan organisasi. Karyawan yang mengenal dirinya dengan baik akan lebih tangguh menghadapi target, lebih stabil dalam tekanan, lebih etis dalam keputusan, dan lebih loyal dalam kontribusi. Mereka tidak hanya bekerja untuk angka, tetapi untuk makna dan tanggung jawab.

PIES 5.0 Meaningful Journey tidak menawarkan solusi instan. Ia menawarkan jalan pulang—mengembalikan manusia kerja kepada kejernihan niat, ketenangan batin, dan orientasi hidup yang sehat. Dalam jangka panjang, inilah fondasi yang melahirkan kinerja yang tidak mudah runtuh oleh krisis, perubahan pasar, atau tekanan zaman.

Mungkin inilah saatnya perusahaan berhenti hanya bertanya, bagaimana meningkatkan kinerja karyawan? Dan mulai bertanya lebih dalam: apakah manusia di dalam organisasi kita masih utuh secara mental dan bermakna secara hidup?

PIES hadir untuk membantu menjawab pertanyaan itu—bukan dengan slogan, tetapi dengan metode, riset, dan perjalanan kesadaran yang teruji oleh zaman. Didik Madani PiES

Scroll to Top