PIES Potensi Diri : Menyatukan Dimensi, Menyalakan Potensi Diri
Oleh Didik Madani
Sumber : Disertasi Grounded Theory tentang Model Aktivasi Potensi Diri dalam Mentransformasi Motivasi dan Pembentukan karakter Moral dan Karakter Kinerja Manusia
Untuk memenuhi standard ilmiah dan penelisan sebuah teori baru tentang potensid diri manusia PIES Potensi Diri, maka diperlukan sebuah penelitian untuk menguji validitas dan kebsahan sebuah ilmu, maka dari itu pada tahun 2025, Didik Madani selaku peneu model PiES Tes Potensi Diri melakukan rekonstruksi dari Model bernama PIES Potensi Diri dan hasilnya adalah sebagai berikut:
PIES adalah akronim dari 4 Potensi dasar manusia yaitu fisik – (Physical), Akal (Intellectual), Rasa (Emotional), Spiritual serta 4 tipe kepribadian (Personality) meliputi (Proactive, Interactive, Emphatic, Sistemik). 4 dimensi dan 4 kepribadian itu di konstruksi secara ilmia dan metodologis dalam penelitian disertasi s-3 melalui pendekatan Studi Grounded Theory oleh Didik Madani menjadi sebuah teorigrand teori dan diturunkan menjadi sebuah model lalu menjadi metode dan alat tes potensi diri manusia bernama PIES Potensi Diri dalam kerangka PIES Self Potential Framwork.
Menurut Didik Madani Potensi Diri adalah keseluruhan kapasitas multidimensi yang terdapat dalam diri manusia, mencakup potensi fisik, intelektual, emosional, spiritual, dan ekspresi kepribadian yang bersumber dari fitrah Ilahiyah. Potensi ini dapat diaktivasi dan dikembangkan secara terpadu untuk melakukan transformasi motivasi terdalam manusia menuju pembentukan karakter moral (akhlak) dan karakter kinerja (amal) dalam menjalani peran hidup. PIES adalah “Penyatuan” 4 dimensi dasar manusia meliputi (fisik Physicall, Akal (Intellectual), Rasa (Emotional), Spiritual dan PIES adalah “Penyalaan” 4 tipe kepribadian manusia meliputi (Proactive, Interactive, Emphatic, Sistemik).
Dalam upaya merumuskan teori kepribadian dan potensi diri yang holistik, model PIES Self Potential dikembangkan sebagai penyempurnaan dari berbagai teori kepribadian dan kecerdasan yang telah ada, seperti DISC, MBTI, STIFIn, serta teori temperamen klasik dari Hippocrates, Galen, dan Ibnu Sina. Model-model sebelumnya memiliki kontribusi besar terhadap pemahaman struktur kepribadian dan pola perilaku manusia. Namun, terdapat sejumlah keterbatasan yang secara ilmiah dan metodologis perlu dikritisi serta dilengkapi.
Model DISC dan MBTI, misalnya, cenderung fokus pada aspek kognitif dan perilaku, tanpa menyentuh kedalaman aspek spiritual dan emosional dalam perspektif Islam. STIFIn pun terbatas pada kecerdasan dominan dan gaya kerja. Sementara teori temperamen klasik yang berakar dari filsafat Yunani, kemudian dimodifikasi oleh Ibnu Sina, memang mulai memperkenalkan keseimbangan tubuh dan jiwa, namun belum secara komprehensif menggabungkan tujuan hidup insan dalam bingkai keimanan dan ibadah.
PIES Self Potential hadir sebagai respons atas kekosongan ini. PIES merupakan singkatan dari empat dimensi utama potensi manusia: Physical, Intellectual, Emotional, dan Spiritual. Keempat dimensi ini tidak hanya mencerminkan potensi alami (fitrah), tetapi juga kebutuhan aktualisasi diri yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam. Setiap dimensi diaktifkan melalui pendekatan kepribadian PIES: Proactive, Interactive, Emphatic, dan Systemic.
Berbeda dari model sebelumnya, PIES Self Potential bukan hanya teori, tetapi juga framework dan instrumen yang digunakan untuk deteksi potensi diri. Deteksi ini melibatkan tes tulis dan pemetaan yang menyeluruh terhadap gaya komunikasi, gaya belajar, kecerdasan dominan, serta respons emosional dan spiritual seseorang. Peta potensi ini digunakan untuk membentuk program pengembangan diri berbasis nilai-nilai Islam.
Dari sisi tujuan, model PIES tidak berhenti pada efisiensi kerja atau produktivitas, tetapi melampaui itu ke arah penghambaan kepada Allah dan pembentukan pribadi robbani. Hal ini bersumber dari ayat Al-Qur’an, seperti QS Asy-Syams (91:7-10) dan QS Adz-Dzariyat (51:56), serta pemikiran Imam Al-Ghazali dalam “Ihya’ Ulumuddin” tentang pentingnya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan pembentukan akhlak melalui tarbiyah ruhaniyah.
Metodologi pengembangan model ini menggunakan pendekatan Grounded Theory. Data lapangan berupa pengalaman peserta training, refleksi santri, serta wawancara dengan tokoh pendidikan Islam digunakan sebagai dasar penyusunan teori. Hal ini memberikan keunggulan metodologis karena model ini tidak hanya dideduksi dari teori asing, tetapi benar-benar digali dari kebutuhan, realitas, dan dinamika masyarakat Muslim kontemporer.
Dengan demikian, PIES Self Potential dapat dianggap sebagai teori baru yang orisinal, berbasis integrasi antara psikologi modern, spiritualitas Islam, dan kebutuhan praktis dalam pengembangan sumber daya manusia baik di pendidikan, organisasi, parenting, maupun dunia kerja. Penyempurnaan ini menegaskan bahwa potensi diri tidak hanya tentang “apa yang dimiliki” oleh manusia, tetapi juga “untuk apa ia diciptakan” dalam kerangka penghambaan total kepada Allah SWT.