
Arti Sebenarnya Kesetiaan
Sepasang suami istri yang sudah 1 tahun menikah tapi belum di karuniai anak, mereka adalah Nina dan Yanto. Alasannya bukan karena nina mandul tapi karena dia tidak pernah mencintai Yanto, dia menikah karena di paksa orang tuanya, nina sangat membenci suaminya, itulah yang selalu dia bisikkan dalam hatinya hampir sepanjang kebersamaan mereka. Meskipun menikahi Yanto, Dia tak pernah benar-benar menyerahkan hatinya pada sang suami.
Walaupun permenikahan mereka terpaksa, Nina tak pernah menunjukkan sikap bencinya. Meskipun dia membenci suaminya, setiap hari dia melayani suaminya sebagaimana tugas istri. Dia terpaksa melakukan semuanya karena dia tak punya pilihan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi dia tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtu Nina sangat menyayangi suaminya karena menurut mereka, Yanto adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, Nina menjadi istri yang teramat manja. Dia lakukan segala hal sesuka hatinya. Suaminya juga memanjakannya sedemikian rupa. Dia tak pernah benar-benar menjalani tugasnya sebagai seorang istri. Dia selalu bergantung pada suaminya, karena dia menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang suaminya lakukan padanya. Dia telah menyerahkan hidupnya pada Yanto sehingga tugasnyalah membuatnya bahagia dengan menuruti semua keinginannya.
Di rumah mereka, Dialah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, dia selalu menyalahkan suaminya. Dia tak suka handuk yang basah yang diletakkan di tempat tidur, Dia juga sebal melihat Suaminya meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, dia benci ketika suaminya memakai komputernya meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia marah kalau Yanto menggantung bajunya di kapstock baju Nina, dia juga marah kalau suaminya memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, dia marah kalau suaminya menghubunginya hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temannya.
Awalnya dia memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi dia tak mau mengurus anak. Tadinya Yanto mendukung dan diapun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya Yanto menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari dia lupa minum pil KB dan meskipun Yanto tahu ia membiarkannya. Diapun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokter pun menolak menggugurkannya.
Itulah kemarahan Nina terbesar padanya. Kemarahannya semakin bertambah ketika dia mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Dia memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar dia tidak hamil lagi. Dengan patuh Yanto melakukan semua keinginanya karena dia mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak mereka.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-8. Seperti pagi-pagi sebelumnya, Nina bangun paling akhir. Suami dan anak-anaknya sudah menunggunya di meja makan. Seperti biasa, Yantolah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, suaminya mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibunya. Dia hanya menjawab dengan anggukan tanpa memperdulikan kata-kata suaminya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu dia memilih ke mall dan tidak hadir di acara ibu. Yaah,,, karena merasa terjebak dengan perkawinannya, dia juga membenci kedua orang tuanya.
Sebelum ke kantor, biasanya Yanto mencium pipinya saja dan diikuti anak-anak mereka. Tetapi hari itu, suaminya juga memeluknya sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Dia berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya dia ikut tersenyum bersama anak-anak mereka. Yanto kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika suami dan anak-anaknya pergi, diapun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobinya. Dia tiba di salon langganannya beberapa jam kemudian. Di salon dia bertemu salah satu temannya sekaligus orang yang tidak dia sukai. Mereka mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatannya. Tiba waktunya Nina harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya dia, ketika menyadari bahwa dompetnya tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasnya hingga bagian terdalam dia tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetnya tak bisa dia temukan, dia menelepon suaminya dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Fahmi meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Kata Yanto menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, Nina mengomelinya dengan kasar. dia tutup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphonenya kembali berbunyi dan meski masih kesal, diapun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompetmu dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suaminya cepat , khawatir dia menutup telepon kembali. Ninapun menyebut nama salonnya dan tanpa menunggu jawaban Yanto lagi, dia kembali menutup telepon. Dia berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suaminya akan datang membayarkan tagihannya. Si pemilik Salon yang sahabatnya sebenarnya sudah membolehkannya pergi dan mengatakan dia bisa membayarnya nanti kalau dia kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”nya juga ikut mendengarnya ketinggalan dompet dan membuatnya gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika dia melihat keluar dan berharap mobil suaminya segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, dia semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suaminya. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali di telepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponnya sudah diangkat. Dia mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponnya diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suaminya. Dia hanya terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak Yanto?” dei jawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa Yanto mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu dia hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, dia berjongkok dengan bingung. Tangannya menggenggam erat handphone yang dipegangnya dan beberapa pegawai salon mendekatinya dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahnya menjadi pucat seputih kertas.
Diapun segera menuju rumah sakit dengan taxi yang sudah stand by di depan salon. Ketika dia sampai di rumah sakit tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulnya. Dia yang hanya diam seribu bahasa menunggu suaminya di depan ruang UGD. Dia tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untuknya. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Yanto telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, tapi karena serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, dia malah sibuk menguatkan kedua orangtunya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua matanya. Dia sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuanya. Anak-anak yang terpukul memeluknya dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatnya menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan dia duduk di hadapannya, dia termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah dia benar-benar menatap wajah suaminya yang tampak tertidur pulas. Didekati wajahnya dan dipandangi dengan seksama. Saat itulah dadanya menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padanya selama sepuluh tahun kebersamaan mereka. Disentuhlah perlahan wajah suaminya yang telah dingin dan disadarinya inilah kali pertama kali dia menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimatanya, mengaburkan pandangannya. Dia terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirnya pada suaminya, dia ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suaminya tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmatanya semakin deras membanjiri kedua pipinya. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatnya berhenti menangis. Dia berusaha menahannya, tapi dadanya sesak mengingat apa yang telah diperbuat pada suaminya terakhir kali mereka berbicara.
Dia teringat betapa dia tak pernah memperhatikan kesehatannya. Dia hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang dimakannya. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus Dia konsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Yanto tak pernah absen mengingatkannya makan teratur, bahkan terkadang menyuapinya kalau istrinya sedang malas makan. Dia tak pernah tahu apa yang suaminya makan karena dia tak pernah bertanya. Bahkan dia tak tahu apa yang disukai dan tidak disukai Yanto. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suaminya adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadanya sesak mendengar itu, karena dia tahu suaminya mungkin terpaksa makan mie instant karena dia hampir tak pernah memasak untuknya. Dia hanya memasak untuk anak-anak dan dirinya sendiri. Dia tak perduli suaminya sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Yanto bisa makan masakannya hanya kalau ada sisa. Yantopun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Nina tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantor suaminya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temannya.
Saat pemakaman, dia tak mampu menahan diri lagi. Dia pingsan ketika melihat tubuh suaminya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun dengan batu yang tertuliskan nama suaminya. Dia tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarnya. Dia terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadanya. Keluarga besarnya membujuk nina dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa Nina begitu terluka kehilangan Yanto.
Hari-hari yang dijalani setelah kepergian suaminya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini diinginkan, tetapi dia malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergian suaminya, dia duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertua Nina membujuknya makan. Tetapi yang diingat hanyalah saat suaminya membujuknya makan kalau dia sedang mengambek dulu. Ketika dia lupa membawa handuk saat mandi, dia berteriak memanggilnya seperti biasa dan ternyata malah ibunya yang datang, Nina berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap suaminya yang datang. Kebiasaannya yang menelepon Yanto setiap kali dia tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponnya. Setiap malam dia menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi dia terbangun dengan sosok Yanto di sebelahnya.
Dulu dia begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang dia bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu dia kesal karena suaminya sering berantakan di kamar tidur mereka, tetapi kini dia merasa kamar tidur mereka terasa kosong dan hampa. Dulu dia begitu kesal jika Yanto melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopnya tanpa me-log out, sekarang dia memandangi komputer, mengusap keybord, berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu dia paling tidak suka suaminya membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau dihapusnya. Remote televisi yang biasa disembunyikan suaminya, sekarang dengan mudah ditemukan meski dia berharap bisa mengganti kehilangan Yanto dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu dilakukan karena dia baru menyadari bahwa Yanto sangat mencintainya dan dia sudah terkena panah cintanya.
Dia juga marah pada dirinya sendiri, dia marah karena semua kelihatan normal meskipun suaminya sudah tidak ada. Dia marah karena baju-baju Yanto masih di sana, meninggalkan baunya yang membuatnya rindu. Dia marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalannya. Dia marah karena tak ada lagi yang membujuknya agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkannya sholat meskipun kini dilakukan dengan ikhlas. Dia sholat karena dia ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padanya, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukanya sedikit demi sedikit. Cinta Allah padanya ditunjukkan suaminya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untuknya dan anak-anak. Teman-temannya yang selama ini dibela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suaminya.
Empat puluh hari setelah kematian suaminya, keluarga mengingatkannya untuk bangkit dari keterpurukan. Ada 2 anak yang menunggunya dan harus dihidupi. Kembali rasa bingung merasukinya. Selama ini dia tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suaminya. Berapa besar pendapatannya selama ini dia tak pernah peduli, yang dipedulikan hanya jumlah rupiah yang ditransfer ke rekeningnya untuk dipakai keperluan pribadinya dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, dia memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya dia terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningnya selama ini. Padahal dia tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana yanto memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena Nina tak pernah bertanya sekalipun soal itu. Yang dia tahu sekarang dia harus bekerja atau anak-anaknya takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi mereka bertiga. Tapi bekerja di mana? Dia hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh Yanto.
Kebingungannya terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahnya datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami, bahwa Yanto mewariskan seluruh kekayaannya pada Nina dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatnya tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untuknya.
Istriku Nina tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingimu selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin istri dan anak-anakku susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak kita. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang. I LOVE YOU
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Allah memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Alvia dan Fahmi, anak tercintaku. Maafkan karena aku tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Fahmi, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Alvia. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!
Dia terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Dia tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosok Yanto yang masih begitu hidup di dalam hatinya. Hari demi hari hanya diabdikan untuk anak-anaknya. Ketika orang tuanya dan mertuanya pergi satu persatu meninggalkan mereka selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihannya saat suaminya pergi.
Kini kedua putra putrinya berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putrinya akan menikah dengan seorang pemuda dari tanah seberang. Putrinya bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Alvia kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Dia merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”
Putrinya menatapku,“seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”
Dia menggeleng,“bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Dia mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintanya pada Yanto suaminya. Dia menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupnya untuk mencintainya. Dia bebas darinya karena kematian, tapi dia tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
“Aku menyangimu Suamiku”