Oleh Didik Madani

Setiap individu memiliki permasalahan dalam hidupnya. Permasalahan terbesar dalam hidup adalah mengenali potensi diri sendiri. Sebab dengan mengenali potensi diri akan mampu memenangkan kita dalam kehidupan. Untuk itu, sering dikatakan mengenal potensi yang ada dalam diri adalah hal mendasar seorang manusia dalam membentuk dan membangun masa depannya.
Pernahkah anda mengalami krisis kepercayaan diri atau dalam bahasa sehari-hari “tidak pede” dalam menghadapi suatu situasi atau persoalan?
Setiap manusia pasti pernah mengalami krisis kepercayaan diri dalam kehidupannya sejak masa anak-anak, dewasa hingga usia lanjut. Krisis kepercayaan diri dapat lahir dikarenakan:
- Pemahaman dalam mengenali potensi diri sehingga diperlukan sikap dan motivasi yang kuat
- Lingkungan kerja yang mampu menghidupkan potensi diri
- Kebutuhan material (benda, data atau orang) yang membuat anda senang
- Memahami keterampilan yang dimiliki sehingga mampu berjalan optimal dalam bekerja dan adanya imbalan (reward and punishment)
- Sebagai penyemangat dalam menjalani kehidupan.
krisis adalah salah satu sarana mengenali dan mengasah potensi diri. Namun apakah semua cukup? Tentu tidak, sebab potensi diri itu harus dibiasakan, digali, lalu dikembangkan terus menerus. Semoga artikel in ibisa membantu Anda dalam mengenali potensi terbaik diri Anda.
Pepatah mengatakan ‘ala bias karena biasa’. Meski itu pepatah lama, namun kontennya masih relevan dengan situasi kekinian. Untuk membiasakan sesuatu tentu dimulai dari langkah pertama.
Jika itu mampu dilakukan, maka kebiasaan yang ada akan terpola dan mampu dijalankan secara terus menerus. Kebiasaan adalah segala sesuatu yang kita lakukan secara otomatis, bahkan kita melakukannya tanpa berpikir.
Habits adalah suatu aktivitas yang dilakukan terus menerus sehingga menjadi bagian dari seorang manusia. Dia adalah kebiasaan kita.(Felix Siauw: 2013)
Modul ini akan berusaha membantu para mahasiswa dalam mengenali, mengembangkan dan melejitkan potensi diri sehingga mampu sukses di masa mendatang.
POTENSI DIRI
Setiap individu memiliki potensi diri yang berbeda. Itu semua merupakan karunia dari Allah SWT yang dapat dikembangkan setiap individu untuk menjalani hidupnya. Untuk mengetahui potensi diri, maka seorang individu harus mampu mendapatkan pengetahuan mendasar tentang apa itu potensi diri.
Potensi berasal dari kata “ to potent ” yang artinya kekuataan atau power. Menurut Dr. Buchari Zainun, MPA, potensi adalah “daya” yang bersifat positif dalam bentuk kekuataan dan negatif dalam bentuk kelemahan.
Potensi diri juga dapat diartikan sebagai kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh seseorang baik fisik maupun mental yang dimiliki seseorang dan mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan bila dilatih dan di tunjang dengan sarana yang baik, sedangkan diri adalah seperangkat proses atau ciri-ciri proses fisik,perilaku dan psikologis yang dimiliki.
Seorang ahli psikologi dari Harvard School of Education Amerika, Prof. Howard Gardner mengenalkan ada sembilan potensi kecerdasan manusia yang harus ditumbuh kembangkan yakni :
9 Potensi Kecerdasan Howard Gardner
1.Kecerdasan linguistik (Linguistic intelligence)
Kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata – kata secara efektif baik secara oral maupun secara tertuliscontohnya pencipta puisi, editor, jurnalis, dramawan, sastrawan, orator. Tokoh terkenal seperti : Sukarno, Paus Yohanes Paulus II, Winston Churhill.
2. Kecerdasan matematis-logis (Logical – mathematical intelligence)
Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika . Jalan pikiran bernalar dengan mudah mengembangkan pola sebab akibat .
contohnya matematikus, programer, logikus. Tokoh terkenal seperti : Einstein (ahli fisika), Habibie (ahli pesawat)
3. Kecerdasan ruang (Spatial intelligence)
Kemampuan untuk menangkap dunia ruang visual secara tepat dan kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat serta mempunyai daya imaginasi secara tepat. contohnya pemburu, arsitek, dekorator. Tokoh terkenal seperti Sidharta (pemahat), Pablo Pacasso (pelukis)
4. Kecerdasan kinestetic-badani (bodily- kinesthetic intelligence)
Kemampuan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan .contohnya aktor, atlet, penari ahli bedah. Tokoh terkenal seperti : Charlie Chaplin (pemain pantonim yang ulung), Steven Seagal (actor)
5. Kecerdasan musikal (Musical intelligence)
Kemampuan untuk mengembangkan , mengekspresikan dan menikmati bentuk – bentuk musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi, dan intonasi serta kemampuan memainkan alat musik. contohnya komponis. Tokoh terkenal seperti Beethoven, Mozart.
6. Kecerdasan interpersonal (Interpersonal intelligence)
Kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak, temperamen orang lain. Kemampuan yang menonjol dalam berelasi dan berkomunikasi dengan berbagai orang. contohnya komunikator, fasilitator. Tokoh terkenal Mahatma Gandhi (tokoh perdamaian India), Ibu Teresa (Pejuang kaum miskin)
7. Kecerdasan intrapersonal (Intrapersonal intelligence)
Kemampuan berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasar pengalaman diri serta mampu berefleksi dan keseimbangan diri, kesadaran tinggi akan gagasan – gagasan . Mereka mudah berkonsentrasi dengan baik, suka bekerja sendiri dan cenderung pendiam. Contohnya para pendoa Ahli Agama.
8. Kecerdasan lingkungan/aturalis (Naturalist intlligence)
Kemampuan untuk mengerti flora dan fauna dengan baik, menikmati alam, mengenal tanaman dan binatang dengan baik. Tokoh terkenal Charles Darwin
9. Kecerdasan eksistensial (Exixtential intlligence)
Kemampuan menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan – persoalan terdalam keberadaan atau eksistensi manusia. contohnya persoalan mengapa ada, apa makna hidup ini. Tokoh terkenal seperti Plato, Sokrates, Thomas Aquina.
POTENSI DIRI MANUSIA
Seorang Public Speaker, penulis buku Didik Madani asal Indonesia dalam bukunya berjudul PIES Temukan kode Kekayaan Hidup” menjelaskan, potensi diri manusia dibedakan menjadi dua bentuk yaitu potensi fisik dan potensi mental atau psikis. Potensi fisik menyangkut keadaan dan kesehatan tubuh, wajah, dan ketahanan tubuh, sedangkan potensi psikis berhubungan dengan IQ ( Intelegensi Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient) PIES Quotient
Jika seseorang memaksimalkan ke empat kecerdasan itu (PIES Quotient), maka akan mampu menghasilkan kecerdasan AQ Adversity Quatient dimana AQ (kematangan dan kedewasaan) pribadi seseorang akan sangat tergantung dengan perjalanan hidup masing-masing, Adversity quotient (AQ) adalah:
- Suatu konsep kerangka kerja guna memahami dan meningkatkan semua segi dari kesuksesan,
- AQ adalah suatu ukuran bagaimana seseorang berespon terhadap kesulitan
- Adversity quotient (AQ) merupakan kematangan, kemampuan seseorang dalam berespon terhadap kesulitan.
Menurut Didik Madani ada 2 potensi (Fisik dan Mental) yang bisa dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan seseorang dalam kehidupan, diantaranaya:
POTENSI FISIK
Meliputi tubuh dan anggotanya beserta prosesnya. Potensi diri fisik adalah kemampuan yang dimiliki seseorang yang dapat dikembangkan dan ditingkatkan apabila dilatih dengan baik. Kemampuan yang terlatih ini akan menjadi suatu
kecakapan, keahlian, dan ketrampilan dalam bidang tertentu. Potensi diri fisik akan semakin berkembang bila secata intens dilatih dan dipelihara. (otot Meylin)
POTENSI MENTAL ATAU PSIKIS
Potensi diri psikis adalah bentuk kekuatan diri secara kejiwaan yang dimiliki seseorang
dan memungkinkan untuk ditingkatkan dan dikembangkan apabila dipelajari dan dilatih dengan
baik. Potensi mental itu diantaranya:
- Proses diri: merupakan alur atau arus pikiran,emosi dan tingkah laku yang konstan.
- Diri sosial: adalah bentuk fikiran dan perilaku yang diadopsi saat merespon orang lain dan masyarakat sebagai satu kesatuan yang utuh.
- Konsep diri: adalah gambaran mental atau keseluruhan pandangan seseorang tentang dirinya dan masa depan.
SDM BERKUALITAS
Membangun SDM yang berkualitas tidak cukup dengan mengandalkan kecerdasan
intelektual (IQ) semata, perlu didukung pula kecerdasan emosional (EQ) yang didasari kesadaran akan kebenaran sejati. Kesadaran akan kebenaran sejati adalah penyadaran diri sepenuhnya terhadap nilai-nilai luhur yaitu nilai-nilai Ketuhanan. Ajaran agama dan kepribadian sangatlah penting dalam membentk SDM berkualitas, sedangkan nilai-nilai budaya dan norma sosial menjadi penyeimbang dalam menemukan kebenaran sejati.
EQ selama ini luput dari perhatian sebagian orang, Patricia Paton menyebutkan bahwa kebanyakan kalangan bisnis menganggap EQ merupakan masalah ringan sehingga penanganannya sering hanya diserahkan kepada kalangan keagamaan atau keluarga. Padahal dalam era globalisasi, mengembangkan dan memimpin kegiatan bisnis dengan mengabaikan aspek emosional berarti membiarkan dan membawa perusahaan keposisi lemah.
Ada empat batu pijakan kecerdasan emosional (EQ) yang dapat dijadikan dasar SDM menjadi sukses, yaitu:
(1) Karakter, (2) Prinsip-prinsip, (3) Nilai-nilai, dan (4) Paradigma.
Pertama, Karakter
merupakan dasar terbentuknya jati diri seseorang yang terpancar
melalui sikap, prilaku, tindakan sehari-hari. Dengan karakter yang ada pada dirinya melahirkan
potensi seseorang untuk bertindak dan bereaksi baik yang positif maupun yang negatif.
Karakter akan sangat menentukan hubungan yang dijalin seseorang dengan orang lain.
Karakter tercermin dalam 8 (delapan) prinsip utama ”penyuluh”, yaitu: welas asih (compassion), suara hati (conscience), keberanian (courage), keunggulan (excellence), kejujuran (honesty),integritas (integrity), keterbukaan (openness), dan penghargaan (respectfulness).
Kedua, Prinsip-prinsip
terbentuk sejak kanak-kanak. Dalam perjalanannya prinsip dalam diri seseorang akan terganggu oleh adanya pengalaman dan kekecewaan-kekecewaan yang dihadapi dalam kehidupannya. Dengan prinsip-prinsip ini, seseorang akan menjalani kehidupannya termasuk berhubungan dengan orang lain sejalan dengan arah dan tujuan hidup yang jelas. Prinsip-prinsip kehidupan yang ada dalam dirinya membantu mengarahkan dan
menunjukkan jalan menuju kesuksesan.
Ketiga, nilai-nilai
merupakan standar pribadi yang menuntut seseorang dibenarkan atau tidak dalam berperilaku. Sehingga seseorang dalam bertindak dan berperilaku yang menjadi ukurannya adalah sesuai tidak dengan nilai-nilai yang ada. Disinilah letaknya orang lain setuju atau tidak setuju apa yang kita lakukan.
Keempat, paradigma
merupakan cara seseorang melihat dan memandang dunia, bukan pandangan secara visual, tetapi menurut persepsi, pemahaman, dan penafsiran. Dalam kehidupan dan hubungan antar manusia (dalam dunia kerja) kesuksesan seseorang akan sangat bergantung pada bagaimana dirinya memandang, memahami, mempersepsikan dan menafsirkan berbagai kejadian dan tantangan.
SDM BERKUALITAS DAN UNGGUL
Paul Stoltz (2000) menjelaskan ada kecerdasan baru yang dibutuhkan seseorang dalam
menjalani kehidupan dan meraih kesuksesan, yaitu kecerdasan ketangguhan (Adversity Quotient/AQ). Dengan kecerdasan ini seseorang akan mampu melewati masalah sesulit apapun dan mampu menemukan jalan keluarnya. Selanjutnya SDM pada era global harus memiliki kompetensidan excellent (keunggulan). Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan bidang pekerjaannya.
Kompetensi pada era global sangat dipentingkan, karena pada era ini akan melahirkan suatu dunia baru yaitu suatu dunia yang terbuka dengan berbagai aspek positif dan negatifnya. Sedangkan yang dimaksud dengan unggul adalah adanya nilai plus dalam diri seseorang.
Steven R.Covey, penulis buku Tujuh Kebiasaan Manusia menyebutkan harapan sosial yang terlalu muluk untuk salah satu anaknya yang ternyata berkemampuan fisik dan mental dibawah rata-rata. Tapi ia gagal. Yang ia lakukan kemudian adalah merubah visinya tentang anaknya tumbuh sesuai dengan alur kemampuannya. Tapi ternyata itulah jalan yang membuat anaknya mencapai prestasi besar.
CARA MENGENALI POTENSI DIRI
Ada beberapa cara dalam mengetahui potensi diri.
- Mengenali bidang apa yang kita senangi.
Sehingga melahirkan semangat atas apa yang kita lakukan. Misalnya seseorang senang buku motivasi, maka dia akan bersemangat membeli buku-buku motivasi meski harus mengeluarkan uang berapapun. Semua dilandasi atas dasar kesenangan atau hobi.
- Bertanya kepada orang terdekat.
apakah itu orang tua, sahabat, keluarga maupun kakak-adik. Bagaimanapun orang terdekat adalah kunci utama yang memahami bagaimana sesungguhnya potensi diri anda.
- Ketiga, mencoba hal baru
Dengan membiasakan banyak bergaul dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pergaulan yang makin luas, maka wawasan akan luas sehingga kita akan menemukan potensi diri yang tersembunyi.
- Banyak “membaca”
Melihat, mendengar dan merasakan sehingga kita akan mendapatkan banyak pengetahuan dan informasi. Bacaan dan tontonan adalah sebuah potensi yang jika dikembangkan akan membantu menapaki kesuksesan di masa depan.
KARIR DAN PASSION
Hampir sebagian besar dari kita menjalani hidup yang hampir sama, menghabiskan 12 tahun untuk bersekolah hingga SMU ditambah 4-5 tahun belajar di Perguruan Tinggi, berjuang untuk memperoleh pekerjaan dengan gaji tinggi, naik pangkat, punya rumah dan mobil, menikah, menyekolahkan anak-anak di sekolah terbaik untuk mengulang kembali siklus hidup seperti yang kita jalani.
- Pertanyaan berikutnya adalah benarkah siklus hidup seperti itu yang benar-benar ingin kita jalani ?
- Apakah pekerjaan yang kita jalani sepanjang hidup itu adalah karir kita ?
- Apakah kita bahagia dan puas dengan hidup kita ?
Sebagian besar mahasiswa memberikan jawaban yang sama bila mendapat pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan dalam hidupnya setelah menyelesaikan kuliahnya.
Memang demikianlah paradigm yang berlaku di masyarakat kita, kurang memberi ruang dan penghargaan terhadap keunikan diri. Namun tidak berarti kita tidak bisa melawan arus. Menurut Rene Suhardono dalam bukunya Your Job is not Your Career: Your job should never define you, Pekerjaanmu tidak pernah menggambarkan siapa dirimu. Pekerjaanmu belum tentu sama dengan Karirmu.
Apa perbedaan “Pekerjaan dan Karir” ?
Rene Suhardono, juga menjelaskan perbedaannya sebagai berikut :
Pekerjaan adalah :
- Alat/instrument bagi perusahaan untuk mencapai tujuan organisasi;
- Sarana bagi individu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan berkarya;
- Jalan untuk berkembang secara pribadi dan professional, dan Kendaraan untuk memperoleh pencapaian pribadi (personal achievement) dan berkontribusi bagi lingkungan (to give back to the community).
Karir adalah :
Sepenuhnya mengenai diri sendiri, menyangkut jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas :
- Bagaimana mengenal keunikan diri dan mengetahui hal-hal yang amat sangat diminati (your passions);
- Bagaimana menjalankan kehidupan bermakna (your purpose of life);
- Bagaimana kita ingin diingat saat tiada nanti (your Value);
- Bagaimana untuk senatiasa punya pandangan positif sepanjang hidup (your Motivation);
- Semangat untuk terus melakukan perbedaan dalam hidup SEKARANG (your Action);
- Bagaimana mencapai kebahagiaan dan kepuasan/ketercapaian dalam hidup.
Karir adalah totalitas kehidupan professional sejak bangun di pagi hari hingga kembali terlelap tidur. Tidak semata-mata terkait dengan cara -cara memperoleh penghidupan. Tujuan karir tidak lain adalah kebahagiaan dan ketercapaian. Karir kita dikendalikan oleh passion kita. Karir kita adalah milik kita, karir kita adalah kita. Kita adalah bos dari karir kita, tidak seorangpun dapat memecat kita dari karir kita.
Passion (Hasrat/KeCintaan)
Passion adalah segala hal yang kita sukai atau minati sedemikian rupa sehingga tidak
terpikir untuk tidak melakukannya. Passion adalah segala macam wujud keunikan,
keistimewaan yang kita miliki dan rasakan. (Suhardono, 2012). Lebih lanjut Rene Suhardono menjelaskan bahwa Passion tidak ada kaitannya dengan kebiasaan ataupun keahlian kita, namun justru berhubungan dengan segala hal yang menggugah minat pribadi. Apa pun itu. Passion bukan sesuatu yang merupakan keahlian kita, tetapi sesuatu yang paling kita nikmati dan minati. Passion adalah sesuatu yang sangat sangat kita ingin lakukan dengan sepenuh hati.
Passion adalah kekuatan kita.
Erwin Gutawa telah dikenal sebagai musisi besar yang dimiliki negeri ini. Erwin menemukan passionnya di bidang music sejak masih duduk di bangku SD. Meskipun menyelesaikan sekolahnya hingga jenjang S1 dibidang Arsitektur, tetapi sepanjang hidupnya Erwin tidak pernah melepaskan kecintaannya terhadap music. Semasa kuliah setiap minggu Erwin mengisi acara Orkestra Telerama di TVRI pada tahun 1980an secara rutin, bahkan dipercaya membuat aransemen Orkestra oleh almarhum Isbandi sebagai pimpinan Orkestra pada waktu itu,di sela-sela kesibukkannya menjalan Tugas Akhir, Erwin masih sempat mencuri waktu untuk rekaman musik.
Setelah lulus kuliah, Erwin memantapkan diri untuk menjalani hidup mengikuti passionnya, berkarir di bidang musik. Saat ini Erwin menjadi pemimpin Orkestra miliknya sendiri, menghasilkan karya-karya besar di bidang musik, termasuk menggelar konser Chrisye bertajuk Kindung Abadi, menghadirkan sosok Chrisye yang menyanyikan lagu baru meskipun Chrisye telah tiada. Sebuah pencapaian luar biasa.
Sumber: https://studylibid.com/doc/78810/mengenal-potensi-diri–karir-dan-passion
Cara Menemukan Passion agar sesuai potensi Diri
Memilih bidang pekerjaan yang sesuai dengan passion atau minat merupakan cita-cita banyak orang. Bagaimana tidak, kita bisa bekerja dengan bersemangat, menikmati, dan tentu hasilnya pun lebih optimal, dibanding dengan melakukan sesuatu secara terpaksa. Tetapi tak semua orang tahu apa yang menjadi passion dirinya.
Ada 7 cara bisa dipakai sebagai panduan untuk mengetahui apa sebenarnya passion kita.
Cara Menggali Passion
- Apa rasa irimu?
- Siapa Role Modelmu / Mentor / Idolamu
- Tanya 3 Sahabatmu, siapa dirimu
- Kembali masa kecilmu
- Ingat momen paling happy
- Jika perusahaan membayar dirimu jadi relawan, apa yang kamu kerjakan
- Tanya psikolog atau Lakukan Tes PIES
- Gali Rasa Irimu
Dari rasa iri Rasa iri tidak selamanya buruk, melainkan bisa jadi indikator dari sesuatu yang orang lain punya dan kita inginkan. Certified Career and Life Coach, Allison Task mengatakan dirinya kadang mengidentifikasi rasa cemburu kliennya pada seseorang, untuk menemukan passion atau apa yang mereka inginkan dalam karier. Contohnya, jika iri dengan pekerjaan orang lain seperti pengacara. Padahal, kamu tidak punya ketertarikan di bidang hukum. Coba gali apa yang membuatmu iri? Apakah gengsinya? Pekerjaannya yang sering jalan-jalan? Pakaian rapi? Kesejahteraan? Bagaimana dengan jam kerja yang ketat hingga kehidupan pribadi dikesampingkan orang berprofesi pengacara?
“Dari seseorang yang membuat kita iri, kita bisa mengenali aspek spesifik dari pekerjaan atau hidup mereka yang juga ingin kita miliki, bisa membantu menemukan komponen dari pekerjaan atau kehidupan yang diinginkan,” ujarnya. Allison mengusulkan agar kita menemukan setidaknya tiga sampai lima orang yang membuat kita “iri”. Lalu, gali lebih dalam untuk menemukan aspek apa dalam hidup mereka yang membuat kita juga ingin meraihnya. Keahlian yang mau dipelajari Allison menceritakan pengalamannya dengan seorang kliennya. Seorang ibu yang benar-benar sibuk mengurusi anak-anak, orang tuanya, hewan peliharaan, hingga siswa pertukaran pelajar. Sedangkan suaminya kerap bepergiaan untuk kerja.
Dalam mendalami tahapan karirnya, belakangan ia menyadari bahwa dirinya punya pekerjaan yang penting dan banyak orang bergantung padanya. “Dia menikmati pekerjaan itu,” kata allison. Ia menginginkan punya kesempatan yang lebih untuk merawat dirinya sendiri. Belakangan, ibu tersebut mengambil sertifikasi yoga. Bukan karena ingin mengajar. Tapi ia ingin mempelajari bagaimana merawat diri untuk kebahagiaan yang sejatu dalam mendapat pengetahuan. Kita bisa menerapkan contoh tersebut pada diri kita masing-masing untuk menemukan passion diri.
- Siapa role modelmu?
Temukan setidaknya tiga orang role model atau panutan dalam hidup kita. Lalu, pikirkan secara spesifik tentang masing-masing dari mereka yang membuat kita terinspirasi.
Misalnya, karena kecerdasannya, gebrakan yang dibuat, kecantikannya, dan lainnya. Hal ini bisa membantu kita untuk mengidentifikasi nilai-nilai yang kita miliki. Ini menjadi bagian dari apa passion kita yang sebenarnya. Ilustrasi. Apa passion yang berhenti kamu kejar di pertengahan umur 20 Tahun Banyak atlet atau musisi yang berhenti mengejar mimpinya pada umur pertengahan 20 tahun karena masalah waktu, misalnya terhambat pekerjaan penuh waktu. Tanyakan, apa yang kira betul-betul sukai tapi berhenti mengejarnya karena sejumlah alasan. Misalnya kita ingin jadi pemain basket. Saat tidak bisa menjadi atlet, mungkin kita bisa memilih perspektif lainnya, seperti menjadi penggemarnya, membuat komunitas, bahkan menjadi pelatih. “Baik passion itu adalah karier maupun hobi, selalu ada jalan untuk kembali meraihnya,” kata Allison.
Keunikan diri Beberapa orang ragu ketika diminta menyebutkan keunikan dirinya. Tujuan mengenali keunikan diri bukan untuk sombong, tapi untuk lebih terbuka mengenali diri sendiri. Keunikan-keunikan kecil yang ada pada diri kita bisa jadi mengarahkan kita pada apa passion kita sebenarnya.
- Tanyakan pada tiga sahabat
Apa yang membuatmu spesial Mungkin kita malu untuk membunyikan kelebihan diri kita. Tapi sahabat-sahabat terdekat kita punya alasan mengapa dari banyak orang di dunia ini, mereka memilih kita sebagai sahabat mereka. Apa yang membuatmu spesial di mata mereka? Mungkin karena kamu humoris, dapat dipercaya, atau orang yang perhatian. Evaluasi apakah kelebihan Anda tersebut memang sejak dulu melekat dalam kepribadian Anda atau terus berkembang. Cocokkan dengan jawaban pada poin pertanyaan sebelumnya. Keunikan ini adalah yang membuatmu menjadi kamu.
- Kembali ke masa kecil Masa kecil
Salah satunya saat masih duduk di bangku sekolah dasar, adalah masa yang membahagiakan dalam hidup. Apa yang menjadi kegemaran kita saat itu? Apa yang kita pakai? Apa yang kita cita-citakan? Siapa tokoh yang saat itu kita jadikan panutan? Dari jawaban tersebut kita bisa mengaitkan dengan apa yang mungkin jadi passion kita. Allison menceritakan salah satu kliennya yang saat masih kecil sangat menyukai seni. Tapi hal itu tak didukung oleh orangtuanya. Walau kita tidak bisa mendalami passion kita karena berbagai alasan, bukan berarti saat dewasa kita tak bisa melanjutkannya. Ada banyak cara melakukannya, misalnya dengan mengikuti kelas hobi yang sesuai passion.
- Mengingat hari paling menyenangkan ‘
Ingatlah hari-hari biasa yang paling berkesan untuk kita (bukan seperti hari pernikahan, ulang tahun atau liburan). Secara detail ingatlah bagaimana kita menghabiskannya.
Alokasikan waktu sekitar 10 menit untuk menuliskannya. Buat sedetail mungkin. Allison mengakui banyak kliennya yang emosional bahkan sampai menangis saat mengerjakan tugas ini. Sebab, mereka mengingat kembali pengalaman-pengalaman hebat yang telah mereka lalui. Hal itu bisa mengarahkan mereka kembali pada apa nilai dan passion mereka sebenarnya.
- Bagaimana Cara Anda menghabiskan uang.
Jika diberi banyak uang yang sangat banyak, misalnya 100 miliar, sampai kita tak perlu lagi bekerja seumur hidup, apa yang akan kamu lakukan? Dengan mengenali jawabannya kita bisa mengenali apa yang kita inginkan dan kontribusi apa yang bisa diberikan.
- Mau Jadi Relawan Apa
Jika perusahaanmu membayarmu untuk jadi relawan, bagaimana menggunakan waktu tersebut? Bagaimana kita menghabiskan waktu luang cukup memberikan informasi tentang passion kita yang sebenarnya. Pikirkan kita tiba di suatu tempat, tapi tanpa gawai apapun, apa yang akan kita lakukan? Cara kita menggunakan kemampuan diri dan waktu, menggambarkan banyak soal passion kita sebenarnya. Lebih baik jika passion tersebut bisa membantu hajat hidup orang banyak.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Menggali Diri untuk Menemukan “Passion””, https://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/22/124000220/menggali-diri-untuk-menemukan-passion-. Penulis : Nabilla Tashandra