Terima Kasih Suamiku

Pagi yang cerah dengan pancaran sinar mentari yang setia menemani aktivitas setiap insan di dunia. semua mata di dalam kereta itu menatap sebuah pemandangan yang membuat orang-orang yang berada dalam bus kota itu merasa simpati melihat seorang wanita muda dengan tongkatnya dan kacamata hitam meraba-raba menaiki tangga bus. Dengan tangannya yang lain di meraba posisi dimana sopir berada, dan membayar ongkos bus. Lalu berjalan ke Dalam bus mencari-cari bangku yang kosong dengan tangannya.
 
Setelah yakin bangku yang dirabanya kosong, dia duduk. Meletakkan tasnya di atas pangkuan, dan satu tangannya masih memegang tongkat.
 
Fatimah adalah wanita muda yang naik bus tadi, dia sudah buta sekitar setahun yang lalu karena sebuah kecelakaan yang telah menimpanya, dan telah menghilangkan penglihatannya untuk selama-lamanya. Dunia tiba-tiba saja menjadi gelap dan segala harapan dan cita-cita menjadi sirna. Fatimah adalah wanita muslim yang tat beribadah, sebelum kecelakaan itu Fatimah adalah wanita yang penuh dengan ambisi menaklukan dunia, aktif di segala perkumpulan, baik di sekolah, rumah maupun di lingkungannya.

Tiba-tiba saja semuanya sirna, begitu kecelakaan itu dialaminya. Kegelapan, frustrasi, dan rendah diri tiba-tiba saja menyelimuti jiwanya. Hilang sudah masa depan yang selama ini dicita-citakan, impian yang selama ini di bangga banggakan.
 
Merasa tak berguna dan tak ada seorang pun yang sanggup menolongnya maka hatinya pun selalu bermbisiki. “Bagaimana ini bisa terjadi padaku?” dia menangis. Hatinya protes, diliputi kemarahan dan putus asa. Tapi, tak peduli sebanyak apa pun dia mengeluh dan menangis, sebanyak apa pun dia protes, sebanyak apapun dia berdo’a dan memohon, dia harus tahu, penglihatannya tak akan kembali.

Diantara frustrasi, depresi dan putus asa, dia masih beruntung, karena mempunyai suami yang begitu penyayang dan setia, Fandy. Fandy adalah aktivis REMAS (Remaja Masjid), dia mengenal Fatimah saat ada acara yang di adakan oleh remas, Fandy memang tertarik sama Fatimah sejak dia belum buta. Dia mencintai Fatimah dg seluruh hatinya. Bahkan ketika mengetahui Fatimah kehilangan penglihatannya, rasa cintanya kepada Fatimah tidak berkurang.

Justru perhatiannya makin bertambah, ketika dilihatnya Fatimah tenggelam kedalam jurang keputus-asaan. Fandy ingin menolong mengembalikan rasa percaya diri Fatimah, seperti ketika Fatimah belum menjadi buta.
 
Fandy tahu, ini adalah perjuangan yang tidak gampang. Butuh extra waktu dan kesabaran yg tidak sedikit. Karena buta, Fatimah tidak bisa lagi mengajar TK. Dia berhenti dengan terhormat. Fandy mendorongnya supaya tidak putus asa.
 
Dunia ini begitu gelap. Tak ada kesempatan sedikitpun untuk bisa melihat jalan. Dulu, sebelum menjadi buta, dia aktiv mengajar di sebuah Taman Kanak-kanak dan biasa naik bus ke tempat ngajarnya dan ke mana saja sendirian. Tapi kini, ketika buta, apa sanggup dia naik bus sendirian? Berjalan sendirian? Pulang-pergi sendirian? Siapa yang akan melindunginya ketika sendirian? Begitulah yang berkecamuk di dalam hati Fatimah yang putus asa. Tapi Fandy membimbing Jiwa Fatimah yang sedang frustasi dengan sabar. Dia merelakan dirinya untuk mengantar Fatimah shalat berjamaahh di masjid di samping rumahnya.

Dengan sabar Fandy menuntun Fatimah ketempat pengajian yang sering dia datangin saat belum buta. Dengan Susah payah dan tertatih-tatih Fatimah melangkah bersama tongkatnya. Sementara Fandy berada di sampingnya. Selesai mengantar Fatimah dia menuju tempat kerjanya di sebuah pabrik roti. Begitulah, selama berhari-hari dan berminggu-minggu Fandy mengantar dan menjemput Fatimah. Lengkap dengan seragam kerjanya.

Tapi lama-kelamaan Fandy sadar, tak mungkin selamanya Fatimah harus diantar; pulang dan pergi. Bagaimanapun juga Fatimah harus bisa mandiri, tak mungkin selamanya mengandalkan dirinya. Sebab dia juga punya pekerjaan yg harus dijalaninya. Dengan hati-hati dia mengutarakan maksudnya, supaya Fatimah tak tersinggung dan merasa dibuang. Sebab Fatimah, bagaimanapun juga masih terpukul dengan musibah yg dialaminya.

Seperti yg diramalkan Fandy, Fatimah histeris mendengar itu. Dia merasa dirinya kini benar-benar telah tercampakkan. “Saya buta, tak bisa melihat!” teriak Fatimah. “Bagaimana saya bisa tahu saya ada di mana? Kamu telah benar-benar meninggalkan saya.” Fandy hancur hatinya mendengar itu. Tapi dia sadar apa yang musti dilakukan.

Mau tak mau Fatimah harus terima. Harus mau menjadi wanita yg mandiri. Fandy tak melepas Fatimah begitu saja. Setiap pagi, dia mengantar Fatimah menuju halte bus. Dan setelah dua minggu, Fatimah akhirnya bisa berangkat sendiri ke halte. Berjalan dengan tongkatnya. Fandy menasehatinya agar mengandalkan indera pendengarannya, di manapun dia berada.

Setelah dirasanya yakin bahwa Fatimah bisa pergi sendiri, dengan tenang Fandy pergi ke tempat kerjanya. Sementara Fatimah merasa bersyukur bahwa selama ini dia mempunyai suami yang begitu setia dan sabar membimbingnya. Memang tak mungkin bagi Fandy untuk terus selalu menemani setiap saat ke manapun dia pergi. Tak mungkin juga selalu Diantar ke tempatnya belajar, sebab Fandy juga punya pekerjaan yg harus dilakoni.

Dan dia adalah wanita yang dulu, sebelum buta, tak pernah menyerah pada tantangan dan wanita yg tak bisa diam saja. Kini dia harus menjadi Fatimah yang dulu, yang tegar dan menyukai tantangan dan suka bekerja dan belajar. Hari-hari pun berlalu. Dan sudah beberapa minggu Fatimah menjalani rutinitasnya belajar, dengan mengendarai bus kota sendirian.

Suatu hari, ketika dia hendak turun dari bus, sopir bus berkata, “saya sungguh iri padamu”. Fatimah tidak yakin, kalau sopir itu bicara padanya. “Anda bicara pada saya?” ” Ya”, jawab sopir bus. “Saya benar-benar iri padamu”. Fatimah kebingungan, heran dan tak habis berpikir, bagaimana bisa di dunia ini, wanita buta, yg berjalan terseok-seok dengan tongkatnya hanya sekedar mencari keberanian mengisi sisa hidupnya, membuat orang lain merasa iri? “Apa maksud anda?”

Fatimah bertanya penuh keheranan pada sopir itu. “Kamu tahu,” jawab sopir bus, “Setiap pagi, sejak beberapa minggu ini, seorang lelaki muda dengan seragam selalu berdiri di sebrang jalan. Dia memperhatikanmu dengan harap-harap cemas ketika kamu menuruni tangga bus. Dan ketika kamu menyebrang jalan, dia perhatikan langkahmu dan bibirnya tersenyum puas begitu kamu telah melewati jalan itu. Begitu kamu masuk gedung masjid, dia meniupkan ciumannya padamu, memberimu salut, dan pergi dari situ. Kamu sungguh wanita beruntung, ada yang memperhatikan dan melindungimu”.
 
Air mata bahagia mengalir di pipi Fatimah. Walaupun dia tidak melihat orang tersebut, dia yakin dan merasakan kehadiran Fandy di sana. Dia merasa begitu beruntung, sangat beruntung, bahwa Fandy telah memberinya sesuatu yang lebih berharga dari penglihatan. Sebuah pemberian yang tak perlu untuk dilihat; kasih sayang yang membawa cahaya, ketika dia berada dalam kegelapanUndang Didik Madani Klik Atau hubungi 081357117400

Leave a Comment

Scroll to Top