Secarik Kertas Dari Ibu

Secarik Kertas Dari Ibu

“Ibu,,, bu, kemana si ibu, tau anaknya pulang bukannya di bukain pintu kek, di siapin makan, malah keluyuran.” Begitu ucapku saat baru pulang sekolah. Hari ini aku pulang larut malam. Aku tidak pernah mendengarkan nasehat ibu untuk langsung pulang sekolah, karena akhir-akhir ini dia sudah berubah, sudah tidak ada lagi kasih sayang untukku, tidak pernah perhatian sama aku lagi. Dulu saja ibu sangat mengasihiku, tak peduli seberapa larut pun aku pulang, dia pasti menungguku dan membukakan pintu pas aku pulang terus membuatkan makanan enak dan diantarkan ke hadapanku. tapi sekarang sudah tidak lagi, ibu sudah tidak menganggapku sebagai anaknya sendiri, makanya aku juga tidak mau mendengar nasehatnya lagi. 

saat ibu sudah pulang aku segera menghampirinya dan berkata dengan nada yang tinggi “Ibu aku laper siapain makan”. tapi dia hanya menjawab dengan nada dingin: “Kamu sudah besar, apakah masih belum bisa masak sendiri?”. sekarang aku sudah benar-benar yakin kalau ibu sudah tidak sayang lagi padaku, dan pada waktu itupun timbulah perasaan tidak senang dan benci pada sang ibu, dan akupun mulai mencuci pakaian sendiri, menata kamar sendiri, saat lapar memasak sendiri, semua urusanku aku kerjain sendiri tanpa memperdulikan ibu, sebab biar pun aku merasa lelah, haus, lapar atau mengantuk, ibu tidak pernah memperdulikanku. Dalam hati aku beranggapan kalau ibu sudah tiada.

Hari ini adalah hari pengumuman kelulusanku, tanpa idzin aku langsung berangkat sekolah. Setelah pengumuman hasil kelulusan selesai aku langsung pulang karena cucianku suda numpuk, tapi pas aku sampai depan rumah aku melihat banyak orang didalam rumah, dalam hati aku bertanya-tanya, “ada apa sih kok rame banget, perasaan aku tidak pernah punya hutang sama tetangga” akupul melanjutkan langkahku masuk kedalam rumah dan ternyata ibuku suda meninggal, dia sudah di bungkus kain kafan, tapi aku tidak terlalu sedih karena memang dia sudah tidak sayang lagi sama aku, jadi kematian ibuku seakan tidak membawa dampak kesedihan sama sekali pada diriku.

Setelah mayat ibu di kubur aku langsung pulang kerumah, baru saja aku nyampek di rumah tiba-tiba, Dewi teman akrabku dan sekaligus tetanggaku memanggilku dari pagar rumah “Fen Fendi tunggu sebentar” Ucapnya dengan nafas terenyah-enyah akibat lari-lari ” Ya Dewi ada apa” tanyaku setelah dia di hadapanku, ” ini mau nyaipaikan amanah dari ibumu” Dewi berkata sambil menyodorkan sebuah kotak padaku, akupun langsung membukanya, dan ternyata selembar surat 

Dalam surat tersebut tertulis pesan ibu:

“Anakku, waktu ibu tidak ada dirumah sebenarnya ibu pergi ke kota, karena ibu pergi memeriksakan kesehatan tubuh, setelah dilakukan pemeriksaan, barulah ibu tahu kalau ibu terkena kanker dan sudah stadium akhir, saat itu ibu hampir-hampir tidak bisa berdiri lagi. Ibu bukan khawatir akan diri ibu, akan tetapi ibu khawatir akan dirimu. Ibu berpikir jika ibu sudah tiada, bagaimana dengan dirimu nanti? Kamu masih kecil, bagaimana kamu bisa melanjutkan hidup? Bagaimana menghadapi masa depanmu?

Dari itu, sepulangnya ibu ke rumah, ibu bersikap dingin kepadamu dan ingin kamu mengerjakan sendiri semuanya, juga tidak peduli lagi padamu agar kamu membenci ibu, dengan demikian sesudah ibu sudah tidak ada di dunia ini lagi nanti, kamu tidak akan diliputi dengan kesedihan.

Anakku, walau ibu tidak pernah bertanya padamu, namun di dalam hati ibu sebetulnya tetap mengkhawatirkan dirimu, setiap kali kamu pulang larut malam, walau ibu tidak membuka pintu untuk melihat dirimu, namun ibu tetap menunggumu pulang.

Ketika kamu pulang dengan tubuh lelah dan perut lapar, ibu membiarkanmu masak sendiri, sebab ibu berharap sesudah ibu tiada nanti, kamu bisa menjaga diri. Dulu ibu mengerjakan semuanya untukmu, namun sesudah ibu tiada nanti, siapa lagi yang akan menjagamu? Segala sesuatu di kemudian hari harus bergantung pada dirimu sendiri.

Ibu berlaku buruk padamu, bahkan tidak memasakkan nasi untukmu dan semua pekerjaan harus kamu lakukan sendiri, maka dengan demikian ketika nanti ayahmu kimpoi kembali, kamu akan berpikir bahwa ibu baru akan lebih baik dari ibu, sehingga kalian akan dapat berhubungan dengan baik dan hari-harimu akan lebih mudah dilalui.

Dalam kotak ini ada uang 5000 dolar yang diberikan nenek kepada ibu, sebetulnya ini adalah uang berobat ibu, namun ibu tidak rela menggunakannya, ibu tinggalkan untukmu dengan harapan ketika nanti kamu masuk perguruan tinggi dan membutuhkan uang, kamu dapat menggunakannya. Sekarang, ibu meminta bantuan ayah untuk menyampaikannya kepadamu.

Air mata segera mengaburkan mata sang anak, juga mengaburkan sepasang mata kita yang membaca kisah ini, kasih ibu terhadap anak sungguh tanpa pamrih dan penuh akal budi, mana mungkin ada ibu yang tidak mengasihi anaknya?

Ketika dia harus menahan perhatian dan kasih dalam hatinya kepada anak, harus berusaha keras untuk memperlihatkan wajah dingin kepada anaknya, saya sungguh sulit membayangkan, betapa menderitanya perasaan ibu ketika itu, namun demi perkembangan anak yang lebih baik dan kehidupan anak yang lebih berbahagia di masa mendatang, ibu rela menerima segala kesedihan, bahkan tidak menyesal untuk membiarkan sang anak salah paham terhadapnya”

“Ibu…..Maafin anakmu yang sudah mendurkahimu, maafin aku ibu”

Air mataku tak henti berhenti setelah membaca surat dari ibu, aku tidak bisa memafkan diriku ini, betapa egoisnya aku, telah menyianyiakan ibu yang sudah membesarkanku dengan kasih sayangnya.

Tapi itu semua tidak akan terulang lagi, sekarang yang bisa aku lakukan adalah membahagiakan bu yang sudah berada di surgaNYA. “Ibu,,, betapa sulitnya dirimu menjagaku, membesarkanku serta mendidikku, namun semua itu tidak akan ku sia-siakan, pengorbananmu akan menjadi kebahagiaanmu kelak”

Leave a Comment

Scroll to Top