Oleh Didik Madani, Motivator – Master PIES POWER
Guru trainer saya Jamil Azzaini pernah bercerita jika dirinya punya kawan yang murah senyum. “Senyumnya mirip Andi malarangeng. Hanya saja nasibnya yang berbeda, “ Katanya.
Selama 1 bulan ibunya sakit keras, semua saudaranya iku bahu membahu patungan untuk membayar pengobatan ibunya, hanya Bahran yang belum mampu secara ekonomi menyebabkan di tidak bisa membantu.
Ditengah kegalauannya, suatu pagi Bahran pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat Dhuha dua rakaat, selesai sholat Bahran bermunajat “ Ya Allah yang Maha menghidupkan dan mematikan, aku memohon kepadamu jangan kau cabut nyawa Ibuku sebelum aku mampu memberikan sesuatu yang mampu membahagiakan ibuku walau sesaat. Duhai yang Maha Pengasih dan Penyayang, saat ini aku tidak mampu membayar biaya pengobatan Ibuku, tapi ijinkanlah aku meminta kepadamu agar keu perpanjang usia Ibuku agar aku mampu melihat senyumnya… izinkan Ya Allah…izinkanlah…” Bahran terisak haru.
Usai berdoa, Bahran lantar menebarkan senyum khasnya kepada setiap pengungjung masjid yang ditemuinya. Tak tampak kesedian dalam raut muka Bahran. Yang ada hanya senyum mengembang dari bibir Bahran yang khas. Bahran lalu membentangkan selembar tikar di depan masjid. Ia tawarkan jasa pijat reflsksi kepada para pengujung masjid. Ketika para pengguna jasa pijat itu memberikan uang, seketikan Bahran memegang tangan mereka sambil tersenyum dan berkata, “Maaf Pak saya tidak meminta ini, saya hanya meminta doa tulus dari bapak agar mendoakan ibu saya yang sedak sakit. Hanya dengan cara ini saya bisa berbakti ibu saya kepada ibu saya.”
Ajaibnya, entah karena ketulusan senyum Bahran dan doa para pengunjung, 2 hari kemudian Ibu Bahran dinyatakan sembuh dan boleh pulang. Bahra bersyukur. Yang semakin membuat haru Bahran adalah semua biaya pengobatan Ibu Bahran semuanya ditanggung oleh jamaah yang terkesan dengan senyum dan cara Bahran berbakti kepada Ibunya.
Bahran tentu tipe orang yang langka. Tatkala sebagian orang berpikir membantu orang semestinya haruslah dengan bantuan material, Bahran justru membantu Ibunya dengan meminta doa para pengunjung masjid dan para pengguna jasa pijatnya dengan sebuah doa yang tulus agar ibunya disembukan oleh Allah. Senyum terbukti memiliki daya magis, yang membuat hati sispapun tersentuh. Cobalah tersenyum dengan anak, istri, kerabat, rekan kerja dan siapapun yang kita temui, bisa dipastikan segala kekakuan, kebencian, ketidaknyamanan dan kemarahan akan berubah menjadi rasa hormat, cinta, kasih sayang dan cairnya suasana. Nabi Muhammad mengajarkan agar kita bersedekah sekecil-kecilnya melalui seyuman.
Tapi senyum yang diajurkan adalah senyum yang ikhlas bukan senyum monalisa yang menyimpan sejuta misteri dalam lukisannya, bukan pula senyuman Standard Operational Procedure – SOP perusahaan dalam training Service Excellent dan Pelayanan Prima, atau senyum ala adegan sinetron. Senyum yang menggoda dan merendahkan. Melainkan “Senyum 226”
Seyum 226 adalah merekahnya bibir sudut kiri 2 centimeter, bibir sudut kanan 2 centimeter selama 6 detik. Orang yang mampu melakukan senyum ini dengan ikhlas pastilah akan terasa nyaman dan damai, kalaupun dia tidak tulus tentu akan terasa tidak nikmat dilakukan, ya..senyum 226 akan membuat orang yang melakukannya merasakan energi ketulusan dan keikhlasan.
Bukan karena dunia ini indah, lantas kita bahagia, namun karena kita bahagia dunia ini memang indah. Maka tersenyumlah!
Selamat tersenyum ikhlas, selamat Tesenyum “226”