Bak roda berputar nasib seserang tak bisa diduga, Kadang ditaas. Sebentara kemudian turunkebawah. Demikian sebaliknya. Seperti yang dialamai Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia HIPMI Sidoarjo, Didik Madani.
Pria kelahiran 21 Desember 1977 itu pernah hidup serba prihatin. Mulai dari menjadi kuli bangunan, penjual es cao-cincao, buruh pabrik sandal hingga sekedar menjadi juru ketik. Namun, kondisi miskin dan broken home tidak membuat dirinya patah arang.
“Sya bertekad untuk berubah. Saya bertekad dalam hati, tidak ada yang bisa menghalangi niat saya untuk berubah kecuali Tuhan”, Imbuh Didik Madani.
Kehidupannya mulai berubah saat dirinya masuk redakasi Jawa Pos mendampingi Owner Jawa Pos yang sekarangmenjadia Menteri BUMN Dahlan Iskan, ia menjadi redaktur perwajahan di Harian Umum Glodok Standard, Jakarta, hingga terakhir di bekerja sebagai reporter JTV sebuah televisi lokal pertama yang bersiaran dengan ijin Gubernur (karene belum ada undang-undang) pada thaun 2001, hingga akhirnya dipercaya sebagai manager marketing. Ia jua mendapat penghargaan sebagai karyawan terbaik.
Didik Madani mengenyam pendidikan S1 di jurusan Komunikasi pada tahun 2006 di Unitomo Surabaya, dan meneruskan S-2 di Universitas Airlangga Surabaya jurusan media dan komunikasi itu, akhirnya bulatkan tekad untk berwirausaha pada tahun 2010.
Dimulai sebagai konsultan marketing, media dan komunikasi, personal branding, sampai jual beli mobil, distributor ayam organik, dan persewaan alat alat multimedia. Karena tidak ada pengalaman dan tidak fokus, bisnisnya bangkrut dan banyak menanggung hutang, dari pengalaman ini Didik Madani memutuskan untuk focus pada bidang jasa training dan konsultan dengan mendirikan perusahaan training bernama PIES POWER Training Center, sementara dirinya hanya Trainer atau Motivator Utama (Master Trainer), untuk managemen dan marketing di serahkan oleh seorang professional. PIES diambil dari singkatan Physical, Intelectual, Emotional dan Spiritual. Ahamdulillah saya mulai dikenal dan banyak diundang perusahaan untuk memberikan motivasi, saat ditanya berapa penghasilannya tiap bulan Didik menjawab “sorang motivator dilarang bicara uang, yang dia pikirkan adalah bagaimana ilmu dan inspirasinya bermanfaat bagi peserta dan masyarakat” imbuhnya.
“Jangan bersedih ketika posisi kita dibawah. Karena, itulah posisi terbaik yang diberikan Allah pada kita untuk bangkit dan melesat lebih tinggi”. Katanya.
Rudianto, Radar Surabaya, 7 Agus 2012