Motivator Indonesia Didik Madani – Tidak sedikit teman mencibir: motivator jangan hanya bisa ngomong, kaya dulu baru bicara. Itu sering saya dengar pada tahun pertama. Kata-kata itu lama mengganggu pikiran saya, membuat saya terdiam bodoh berbulan-bulan. Saya minder, frustasi, dan mengurung diri di rumah. Sampai akhirnya saya tidak lagi memedulikan mereka.
Pikiran saya langs
ung tertuju ke Lembaga Pemasyarkatan (LP) Porong Jawa Timur. Lantas saya menulis surat permohonan untuk memberi motivasi dan mendampingi mereka. Gayung tak bersambut. Permohonan saya ditolak. Dalam hati saya berkata: wajar karena saya bukan siapa-siapa dan belum dikenal. Sedih, jengkel, dan tidak dapat terima kenyataan. Saat menjadi wartawan, saya tidak pernah ditolak narasumber.
Seorang teman kuliah S-2 akhirnya membantu dengan memberi kesempatan mengisi motivasi di Lapas Porong. Hari H pun ditetapkan. Saya menghubungi teman wartawan Jawa Pos. Hari yang ditunggu tiba.
Saya berbicara di depan tidak kurang 1.000 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Esok hari muncul berita di Harian Jawa Pos: Didik Madani
dan Kesetiaannya sebagai Motivator para Napi. Hari itu juga banyak SMS masuk memberi ucapan selamat karena berhasil diliput dan diberitakan media (koran).
Sampai sekarang saya masih membuat event-event kecil yang menarik untuk konsumsi berita wartawan. Meski kita hanya menemukan pecahan kaca, bagaimana caranya seluruh dunia tahu. Itu prinsip utama.(*)