Ijinkan Aku Mencintaimu Apa Adanya

Aku Elisa, 2 tahun yang lalu aku menikah dengan seorang yang sukses, Mas Arif namanya dia seorang insiyur, alasanku mau menikah dengannya karena sifatnya yang alami dan aku menyukai perasaan hangat yang muncul dihatiku ketika aku bersandar di bahunya yang bidang.

Aku harus Akui, bahwa saya mulai merasa lelah, karen alasan-alasanku mencintainya dulu, kini telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Aku seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Aku merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan mainan. Tetapi semua itu tidak pernah aku dapatkan.

Mas Arif Suamiku jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidak mampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapanku akan cinta yang ideal.

Suatu hari, aku beranikan diri untuk mengatakan keputusanku kepadanya, bahwa aku menginginkan perceraian.

“mas maaf sebelumnya bukan maksud menyakiti kamu mas tapi aku merasa semua telah berubah dalam keluarga kita jadi aku minta di ceraikan aja mas” tanyaku saat dia au istirahat karena baru datang kerja. “Mengapa?” tanyanya simpel, dia bertanya dengan terkejut. “Aku lelah Mas, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang aku inginkan”. Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaanku semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa aku harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, “Apa yang dapat aku lakukan untuk merubah pikiranmu?”.

Aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, “Aku punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hatiku, maka aku akan merubah pikiranku. Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati, Apakah kamu akan melakukannya untukku..?” Dia termenung dan akhirnya berkata, “Saya akan memberikan jawabannya besok.”. Hatiku langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan aku menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan …

“Istriku Sayang, aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan aku untuk menjelaskan alasannya.” Kalimat pertama ini menghancurkan hatiku. Aku melanjutkan untuk membacanya.

”Istriku Sayang, ketika kamu mengetik di komputer lalu program-program di PC-nya kacau dan akhirnya kau menangis di depan monitor, Aku harus memberikan jari-jariku supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya dan kamu bisa menyelesaikan pekerjaanmu.

Istriku Sayang, kamu juga selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan aku harus memberikan kakiku supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang.

Istriku Sayang, kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, aku harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk menunjukkan jalan kepadamu.

Istriku Sayang, kamu selalu sakit dan pegal-pegal pada waktu “teman baikmu” datang setiap bulannya, dan aku harus memberikan tanganku untuk memijat kakimu yang pegal.

Cinta, ketika kamu sedang diam di rumah, dan aku selalu kuatir kamu akan menjadi “aneh”. Maka saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami.

Cinta, kamu terlalu sering menatap layar kaca TV dan Komutermu serta membaca buku sambil tiduran dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, maka aku harus menjaga mataku agar ketika kita tua nanti, aku masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu. Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu.

Tetapi sayangku, aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, aku tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku. Sayangku, aku tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari aku mencintaimu. Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu.”

Air mataku jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi aku tetap berusaha untuk membacanya.

“Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawabanku. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu. Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia.”

Aku segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Aku peluk dia penuh kebahagiaan, oh, kini aku tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai aku lebih dari dia mencintaiku.

Leave a Comment

Scroll to Top