Ibu Ikhlas Nak…!!!

Namaku adalah taufik, aku adalah anak tunggal, karena aku tidak punya saudara. aku di rumah cuma tinggal berdua sama ibu karena ayah sudah meninggal saat aku masih di kandungan. Sejak ayahku meninggal Hanya akulah yang menjadi tumpuan hidup ibunya sehingga dia kuat untuk menjalani hidup. akulah yang di harapkan ibu untuk menjadi pemimpin rumah tanggaku nanti.

Tak terasa waktu cepat sekali berlalu, hari ini adalah hari pembagian raport si sekolah SMAku, tapi aku tidak terlalu senang, aku berbeda dengan yang lain, saat mereka berpelukan sama ibunya, akku cuma bisa melihatnya. Aku memang sengaja tidak mengajak ibu ke sekolahku, karena aku malu dengan deaadaan ibu sekarang.

Saat aku pulang dari pembagian raport itu, ibu langsung membukakan pintu padahal aku belum mengucapkan salam dan mengetuk pintu, dengan wajah yang sudah keriput yang diiasi senyumnya dia bertanya tentang hasil raportku ” nak sudah pulang ,, bagaimana nilai kamu ? baguskan, soalnya tiap malam ibu selalu memintakan yang terbaik ntukmu kepada allah” jelasnya sambil mengusap-ngusap pundakku.
“ Ibu, aku malu sama teman-temanku, mereka memiliki ibu yang sempurna secara fisik dan mereka bangga terhadap ibu mereka, tapi aku bu, mengapa aku memiliki ibu yang buta. Andai saja aku tau, aku dilahirkan oleh seorang ibu yang buta maka aku lebih memilih untuk tidak dilahirkan”, sambil menggeser tangan ibu yang masih melengket di dua pundakku.
 
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku, ibu hanya berkata berkata : “ Nak, ibu memang buta, tetapi walaupun kau malu dengan keadaan fisik yang ibu miliki, ibu tetap sayang padamu nak.” jawabnya yang di iringan sebingkai senyum dan tatapan kasih sayang kepadaku. Akupun menjawab: “ Bu, semua teman-temanku selalu menghinaku, bahkan tidak ada satu perempuanpun yang suka padaku karena melihat fisik ibu yang tidak sempurna. Mereka takut jika kelak menikah denganku anak kami juga akan cacat, buta seperti ibu ”. Mendengar perkataanku ibu langsung pergi sambil meneteskan air mata dia sangat terpukul, namun demikian ibuku tetap sayang denganku dan tak henti-hentiku.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, akhirnya akupun memutuskan untuk melanjutkan pendidikan S1 di Fakultas Teknik di Jogja, aku mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku karena aku memang kurang mampu, akirnya akupun berangkat ke Jogja dengan di anter mobil sekolah dan aku tinggalkan ibu di rumah sendirian, karena aku memang ada sedikit malu bersama ibu, sudah buta miskin pula.

selama aku di Jogja aku tidak pernah mengabari ibu, tapi ketika aku sudah mau wisuda dan ada tetanggaku yang mau pulang kampung, aku nitip salam buat ibu kalau aku sudah mau di wisuda minggu depan. setelah sehari dari pulangnya tetanggaku dia menelfonku, tapi yang bicara ibuku “halo anakku taufik bagaimana kabarmu nak,,,,??? Betapa bangganya hati ibu mendengar kau akan diwisuda dan menjadi seorang Insinyur, tak sia-sia pengorbanan ibu selama ini dengan berjualan di pasar untuk menyekolahkanmu mulai dari SD hingga SMA dan mengirimmuu uang jajan saat di jogja, terima kasih nak kamu sudamenunjukkan pada ibu, alhamdulillah tidak sia-sia ibu berkerja walaupun dalam keadaan mata yang buta.” aku tutup telfonku, tanpa menunggu ibu selesai bicara.

Sampailah saat yang ditunggu-tunggu, saat aku dan teman-temanku akan diwisuda. seperti biasanya di saat wisuda aku tidak pernah di dampingi oleh orang tuaku sedang, Teman-temanku berserta orang tuanya dan keluarga berkumpul menantikan acara yang akan berlangsung,

Akhirnya tanpa sepengetahuanku ibu datang sendiri keacara wisudaku, sesampainya ditempat dan giliran aku yang akan diwisuda, betapa bahagianya hati ibuku mendengar namaku dipanggil kedepan dengan nilai terbaik. Namun aku, aku sangat malu terhadap teman-teman dan pacarku ketika mengetahui ibuku juga hadir di acara wisuda itu, acara yang seharusnya menurut ku membuat bahagia tapi malah menjadi acara yang sangat memalukan sepanjang sejarahku.

Pada saat itu, ibuku mendekatiku sambil meraba-raba wajah anakku, pacarku Yani bertanya padaku : “ Siapa perempuan buta itu ?” tapi aku tidak menjawab dan hanya diam membisu, aku benar-benar malu, apa lagi saat ibu berkata bahwa dia adalah ibuku, aku sangat marah sama ibu, dan akhirnya akupun pulang sebelum acara itu selesai dan meninggalkan ibu senidirian di tempat di mana aku merasakan sangat malu di depan orang banyak.

Setelah acara selesai akhirnya ibu juga pulang kerumah tanpa aku. Namun siapa yang tau kapan ajal akan tiba, ketika hendak menyebrang jalan ibuku meninggal dunia karena di tabrak mobil pacarku sendiri, dan hanya tas kecil yang sangat lusuh yang selalu dibawa kemanapun ibuku saat berpergian yang di berikan polisi kepada saat ibu sudah di bawa ke rumah sakit. 

Dan betapa terkejutnya Aku ketika pihak rumah sakit mengabarkan bahwa beberapa menit yang lalu ibunya telah meninggal akibat kecelakaan itu. Aku hanya terdiam membisu saat mendengar kabar itu, dengan tetesan air mata. mau bagaimana lagi kini ibu suda pergi dengan kasi sayangnya kepadaku yang belum sempat aku balas bahkan tak jarang aku membuatnya kecewaq bahkan menangis. Aku duduk di depan kamar ibu menunggu jenazah ibuku yang masih dibersihkan dari sisa-sisa darah yang masih menempel di tubunya.

Pada saat menunggu jenazah ibu, Aku membuka tas kesayangan ibu yang lusuh dan kumal itu. Disana terdapat foto ibunya ketika mengandungku, pada saat aku masih bayi, dan betapa terkejutnya aku ketika membaca sepucuk surat yang begitu lusuh yang terdapat didalam tas ibu. akupun membaca surat tersebut, dan didalam surat itu tertulis :

“ Solo, 14 Mei 1984, Anaku Taufiq yang sangat kucintai, bayi mungilku yang sangat kusayangi, betapa kau sangat berharga dihati ibu nak. Walaupun kau buta dari lahir tetapi ibu sangat menyayangimu, kaulah anugrah terindah yang ibu muliki. Nak, ini adalah surat terakhir yang ibu tulis, karena besok ibu sudah tidak bisa lagi menuliskan kata-kata diatas kertas. Karena besok ibu akan mendonorkan kedua mata ibu untukmu nak, agar kelak kau dapat melihat dan menikmati indahnya dunia, anugrah yang diberikan Allah. Nak suatu saat jika ibu sudah tiada dan kau ingin melihat ibu, berkacalah nak, karena dimatamu ada ibu yang selalu menemanimu ”.

Air mataku mengalir dengan derasnya tanpa bisa kubendung ” ibu…….Maafkan aku bu,,, kenapa ibu tidak bilang dari awal kenapa bu,, maafkan ke dhaliman anakmu, betapa egoisnya aku, aku belum membahagiakanmu ibu tapi kenapa engkau pergi” teriakku penuh sesal dengan iringan air mata yang tak mau berhenti mengalir, aku teringat dengan semua perbuatan yang sering membuat ibuku menangis.

Segera aku masuk ke ruangan ibu dan mencium kakinya yang telah terbujur kaku, dan bersimpuh dengan penuh kesesalan. Semua telah terjadi dan kini ibunya telah pergi untuk selama-lamanya.

subhanallo semoga kita tidak durhaka kepada ibu kita amin

betapa besar kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya, tanpa mengharapkan balasan. Ibu selalu dengan ikhlas memberikan apapun yang dimilikinya termasuk jiwanya sendiri

Leave a Comment

Scroll to Top