Besarnya Cintaku Padamu

Rumah mewah di pinggiran desa yang akku tempati sekarang bersama suami dan mertuaku adalah rumah suamiku sendiri. Suamiku adalah anak satu-satunya keturunan orang terpandang di desanya, sedangkan Aku cuma anak orang biasa. Namun demikian kedua orang tua suamiku, sangat menyayangiku sebagai menantu satu-satunya mereka. mungkin karena aku selalu patu sama mereka dan sering mengajaknya beribadah beramaah, aku juga sudah tidak punya saudara dan orang tua lagi. Karena Mereka semua menjadi salah satu korban gempa beberapa tahun yang lalu.

Sekilas banyak orang-orang yang memandang, kami adalah pasangan yang sangat harmonis. Para tetanggaku pun tahu bagaimana aku dan suamiku dulu saat merintis usaha dari kecil untuk mencapai kehidupan mapan seperti sekarang ini. Sayangnya, keluarga kami belum lengkap, karena dalam kurun waktu sepuluh tahun usia pernikahan kami, kami belum juga dikaruniai seorang anakpun. Akibatnya suamiku putus asa hingga walau masih sangat cintaiku, dia berniat untuk menceraikanku, yg dianggabnya tidak mampu memberikan keturunan sebagai penerus generasi. Setelah melalui perdebatan sengit, dengan sangat sedih dan duka yg mendalam, akhirnya aku pun menyerah pada keputusan suamiku untuk tetap bercerai.

Sambil menahan perasaan yg tidak menentu, aku dan suamikupun menyampaikan rencana perceraian kami tersebut kepada orang mertuaku. Orang tua suamiku pun menentang keras, sangat tidak setuju, tapi tampaknya keputusan suamiku sudah bulat. Dia tetap akan menceraikanku.

Setelah berdebat cukup lama dan ber jam-jam, akhirnya dengan berat hati kedua mertuaku itu menyetujui perceraian tersebut dengan satu syarat, yaitu agar perceraian itu juga diselenggarakan dalam sebuah pesta yg sama besar seperti besarnya pesta saat kami menikah dulu.
Karena tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, maka persyaratan itu pun disetujui oleh suamiku.

Beberapa hari kemudian, pesta diselenggarakan. Sebuah pesta yg sangat tidak membahagiakan bagi siapapun yg hadir, apa lagi sama aku dan mertuaku. Suamiku nampak tertekan, stres dan terus menenggak minuman beralkohol sampai mabuk dan sempoyongan. Sementara aku tampak terus melamun dan sesekali mengusap air mata nelangsa di pipiku.

Di sela mabuknya itu tiba-tiba suamiku berdiri tegap dan berkata lantang,
“Istriku, saat kamu pergi nanti… ambil saja dan bawalah serta semua barang berharga atau apapun itu yg kamu suka dan kamu sayangi selama ini..!”

Setelah berkata demikian, tak lama kemudian ia semakin mabuk dan akhirnya tak sadarkan diri.

Keesokan harinya, seusai pesta, Suamiku terbangun dengan kepala yg masih berdenyut-denyut berat. Dia merasa asing dengan keadaan disekelilingnya, tak banyak yg dikenalnya kecuali satu. Yaitu aku, istrinya, yang mungkin masih sangat ia cintai, dia pun lalu bertanya,

“Ada dimakah aku..? Sepertinya ini bukan kamar kita..? Apakah aku masih mabuk dan bermimpi..? Tolong jelaskan…”

Aku pun lalu menatap suamiku penuh cinta, dan dengan mata berkaca aku menjawab,

“Suamiku… ini dirumah peninggalan orang tuaku, dan mereka itu para tetangga. Kemaren kamu bilang di depan semua orang bahwa aku boleh membawa apa saja yg aku mau dan aku sayangi. Dan perlu kamu tahu, di dunia ini tidak ada satu barangpun yg berharga dan aku cintai dengan sepenuh hati kecuali kamu. Karena itulah kamu sekarang kubawa serta kemanapun aku pergi. Ingat, kamu sudah berjanji dalam pesta itu..!”

Dengan perasaan terkejut setelah tertegun sejenak dan sesaat tersadar, Suamiku pun lalu bangun dan kemudian memeluk istriku erat dan cukup lama sambil terdiam. Akupun hanya bisa pasrah tanpa mampu membalas pelukannya. aku biarkan kedua tanganku tetap lemas, lurus sejajar dengan tubuh.

“Maafkan aku istriku, aku sungguh bodoh dan tidak menyadari bahwa ternyata sebegitu dalamnya cintamu buat aku. Sehingga walau aku telah menyakitimu dan berniat menceraikanmu sekalipun, kamu masih tetap mau membawa serta diriku bersamamu dalam keadaan apapun…”

kamipun akhirnya ikhlas berpelukan dan saling bertangisan melampiaskan penyesalan masing-masing. Kami akhirnya mengikat janji (lagi) berdua untuk tetap saling mencintai hingga ajal memisahkan kita.
Subhanallah…#.#.#

Leave a Comment

Scroll to Top