Suatu hari, seorang ayah membawa anaknya ke sebuah pemukiman kumuh. Selama ini, mereka hidup serba berkecukupan dan tak kekurangan apapun. Namun kali ini, dia ingin menunjukkan pada sang anak bahwa hidup tak selamanya indah. Sang ayah ingin anaknya tahu bahwa manusia bisa dilahirkan sangat miskin dan kekurangan.Sesampainya di lokasi, sang anak memang tercengang dengan pemandangan yang dia lihat. Banyak orang yang tinggal di dalam tempat tinggal sederhana, dan bisa dibilang tidak layak. Saat hari mulai gelap, mereka hanya mengandalkan cahaya bintang karena memang tak punya cukup uang untuk memasang listrik dan membeli lilin. Saat itulah sang ayah bertanya pada anaknya.
“Apakah kau lihat betapa miskinnya mereka? Apa yang bisa kau pelajari dari kehidupan mereka,” tanya sang ayah.
Sesaat, bocah laki-laki itu melihat kondisi di sekelilingnya dan membandingkan dengan kehidupannya sendiri. Setelah sempat merenung dan berpikir. akhirnya dia pun menjawab pertanyaan ayahnya dengan jawaban yang sangat mengesankan.
“Kita punya satu kucing, tapi mereka punya empat. Kita hanya punya kolam, tapi mereka memiliki sungai. Kita menggunakan lampu saat malam, namun mereka punya bintang di langit. Kita membeli makanan, tapi mereka bisa menanamnya sendiri. Setiap hari kita terlindung oleh tembok yang kokoh, dan mereka punya teman yang rela melakukan apapun. Kita belajar dari ensiklopedia, dan mereka hidup bersama kitab suci,” ungkapnya lancar.
“Terima kasih ayah, karena telah menunjukkan betapa miskinnya kita,” imbuhnya.
Intinya, kekayaan kita memang bukan ditentukan oleh berapa banyak uang yang kita miliki. Kekayaan hati, teman, keluarga dan kedekatan pada Tuhan adalah harta yang terlihat sangat sederhana, namun memiliki nilai yang tak bisa diukur.
