Jika ditanya apa latar belakang pekerjaanya, Didik Madani dengan bangga mengatakan jika dirinya adalah lulusan “Kuli Bangunan-penjual es cao, Buruh pabrik sandal dan juru ketik”.
Menurutnya itu sebagai pengingat agar selalu tahu diri dan tidak lupa diri. Didik Madani adalah seorang otodidak yang lahir 21 Desember 1977 dari keluarga miskin dan broken home, dibesarkan oleh seorang nenek “Mak Sarti” yang berprofesi sebagai tukang pijat dan kakek yang bekerja sebagai tukang becak, dibantu seorang Paman sebagai buruh pabrik konveksi. Tanpa bimbingan orang tua dan dalam keadaan serba kekurangan, makan hanya dengan nasi dan garam sudah biasa. Miskinnya kondisi ekonomi membuat Didik Madani dan ketiga adiknya sering menerima kiriman nasi dan kuah “busuk” dari tetangganya karena tidak ada makanan dan terpaksa diterima”.Hampir tidak bisa melanjutkan SMP karena tidak biaya, lulus SMP memberanikan diri ‘ngenger” di tepat ibu tirinya yang demi melanjutkan sekoah SMA.
Menurutnya itu sebagai pengingat agar selalu tahu diri dan tidak lupa diri. Didik Madani adalah seorang otodidak yang lahir 21 Desember 1977 dari keluarga miskin dan broken home, dibesarkan oleh seorang nenek “Mak Sarti” yang berprofesi sebagai tukang pijat dan kakek yang bekerja sebagai tukang becak, dibantu seorang Paman sebagai buruh pabrik konveksi. Tanpa bimbingan orang tua dan dalam keadaan serba kekurangan, makan hanya dengan nasi dan garam sudah biasa. Miskinnya kondisi ekonomi membuat Didik Madani dan ketiga adiknya sering menerima kiriman nasi dan kuah “busuk” dari tetangganya karena tidak ada makanan dan terpaksa diterima”.Hampir tidak bisa melanjutkan SMP karena tidak biaya, lulus SMP memberanikan diri ‘ngenger” di tepat ibu tirinya yang demi melanjutkan sekoah SMA.
Seorang tetangga berbaik hati mengenalkan dengan redaksi koran Jawa Pos dan akhirnya bekerja sebagai redaktur perwajahan di Harian Umum Glodok Standard Jakarta mendampingi Bapak Dahlan Iskan yang saat itu aktif mengawal koran bisnis tersebut pada tahun 1998, karena krisis, akhirnya koran itu tutup. Setelahnya Didik Madani bekerja di sebuah majalah bulanan bernama Suara Hidayatullah, lalu berpindah menjadi script writer radio Elvictor di Surabaya dan eneliti di lembaga Media Watch untuk selanjutnya pada tahun 2001 berkarir di sebuah stasiun televisi lokal pertama di Indonesia bernama JTV sebagai reporter pertama dan satu-satunya hingga 2010 dipercaya sebagai manager marketing dan mendapat penghargaan sebagai karyawan terbaik pada tahun 2008.
Menyelesaikan pendidikan S1 di Unitomo Surabaya jurusan Komunikasi Jurnalistik selama 6 tahun pada tahun 2006 karena banyak melakukan liputan dan menyebabkan cuti dan bolos, selebihnya karena tidak ada uang untuk bayar kuliah. Keingian merubah diri membuat Didik Madani hingga membuatnya bertekad untuk memperbaiki kualitas diri dengan meneruskan S-2 di Universitas Airlangga jurusan Media dan Komunikasi pada tahun 2010 dengan biaya sendiri.
Lepas dari JTV pada tahun 2010, Didik Madani belajar menjadi wirausaha dimulai sebagai konsultan marketing media dan komunikasi, konsultan politik, personal branding hingga merambah bisnis ayam organik, jual beli mobil, percetakan dan multimedia, termasuk mendirikan media online infoCSR.
Aktif menjadi dosen terbang di beberapa perguruan tinggi bidang SDM, marketing, media dan komunikasi. Sempat dipercaya untuk memimpin salah satu lembaga kemanusiaan di Jawa Timur. Berbekal pengalaman hidup dan perenungan diri akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha di bidang training dan pelatihan dengan bergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia HIPMI Jatim dan KADIN JATIM.
Sempat dipercaya untuk memimpin salah satu lembaga kemanusiaan di Jawa Timur. Berbekal pengalaman hidup dan bisnis serta perenungan diri akhirnya memutuskan untuk menjadi pengusaha di bidang training dan pelatihan SDM dengan bergabung dalam Himpunan Pengusaha Muda Indonesia HIPMI Jatim dan KADIN JATIM.
Lembaga training dan pelatihan SDM itu diberi nama PIES POWER TRAINING CENTER, PIES diambil dari singkatan Physical, Intelectual, Emotional dan Spiritual, 4 komponen ini menurut Didik modal paling luar biasa dari Allah untuk bengkit adalah PIES, modal itu harus harus digabung menjadi sebeuah kekuatan (POWER) dalam meraih kesuksesan-kemuliaan dan kebahagaian hidup. “Jangan bersedih ketika posisi kita dibawah, karena itulah posisi terbaik dari Allah yang diberikan pada kita untuk bangkit dan melesat lebih tinggi. Itulah Kualitas Hidup Kita”.