Oleh Giri Bayu Kusuma, Trainer PIES POWER For Entrepreneur
Saat itu akhir bulan juli 2012, adik saya Satria datang dari Banjar
masin mengajak saya menjenguk temannya Albertus Purwonegoro atau akrab dipanggil Pa Pur rekan sesama penilai yang sedang sakit diabetes dan ginjal. Pa Pur sudah tidak di bekerja dan tinggal di Manado dan sekarang berada di Gresik karena sakit tersebut. Pa Pur merupakan pimpinan perwakilan PT. Asean Appraisal dan merupakan perusahaan penilai satu-satunya yang ada di Manado.
Keesokan harinya Ibu saya Elly Herlina dan adik saya Mega juga ikut meski sebelumnya tidak kenal dengan pak pur. Bagi keluarga kami khususnya Ibu saya, pak pur adalah rekan kerja seprofesi kondisi sekaligus guru.
Sesampainya di tempat tinggal Pa Pur, saya terhentak tatkalah melihat kondisi Pak Pur saat itu, badannya kurus kering, dan tertatih-tatih saat berjalan. Terakhir ketemu Pak Pur adalah orang yang energik dan penuh semangat. Muka, kaki, matanya sudah tidak berfungsi dengan normal, mata sebelah kanan juga tidak dapat melihat, sementara bagin mata kiri juga sdah tidak normal . Tiba tiba air mata Pak Pur meleleh, di depan kami sekeluarga, sayapu tak kuasa menahan haru, mata inipun berkaca-kaca.
Pa Pur mulai bercerita, dalam seminggu harus 2 kali cuci darah hari Rabu dan Sabtu, setiap cuci darah membutuhkan waktu kurang lebih 5 jam dan harus menahan sakit yang luar biasa setiap proses itu, makanpun dibatasi maksimal 5 sendok termauk jenis makanannya, termasuk minum pun dibatasi, dalam 24 jam, porsi minum lebih kurang sebanyak darah kotor yang dikeluarkan pada saat cuci darah., belum lagi setiap cuci darah minimal mengeluarkan biaya Rp. 1.000.000, dalam sebulan kurang lebih mengeluarkan biaya Rp. 8.000.000 hanya untuk proses cuci darah, sementara penghasilan Pak Pur saat ini adalah mantan Jasa Penilai. Gali lubang tutup lubang menjadi sudah menjadi kebiasaan hanya untuk biaya cuci darah.
Kondisi mengenaskan yang dialami oleh Pak Pur, menarik iba seorang bidan bernama Ibu Ninik berusia 60 tahun yang dengan rela merawat Pak Pur tanpa pamrih apapun, “Pak Pur dulu adalah mantan atasan suami saya” saya ingin balas budi” tegas Bu Ninik.
Cerita ini menyadarkan kita, bahwa banyak Pak Pur-Pak Pur lain di dunia ini, cerita Pak Pur adalah sebuah fenomena yang menyadarkan kita kesadaran bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal, apapun setinggi apapun jabatannya, sekaya apapun hartanya, sepanjang apapun gelarnya, tetap bahwa kita adalah manusia yang pastu menua, hidup seperti roda, saat ini dibawah, besok diatas, saat ini di hina bisa saja besok mulia dan sebaliknya dahulu di puja kini di cercah. “Pak Pur” adalah guru kehidupan saya hari itu.
Ketulusan bu Ninik mengajari kita tentang keikhlasan untuk berbuat kepada sesame, tidak perlu menunggu kaya untuk bisa beramal, cukup dengan tangan kita, tak perlu menunggu siapa-siapa. “Bu Ninik” adalah guru keikhlasan saya hari itu.
Betapa kita sering lupa bahwa ayat pertama yang diturunkan Allah kepada nabi Muhammad adalah satu kata yaitu “Iqro”, sore itu saya seperti mendapat kuliah 2 semester tentang “Iqro”…Iqro adalah membaca tentang kehidupan yang dialami Pak Pur, membaca tentang Keikhlasan yang dilakukan Bu Ninik, Iqro=membaca tarikan suara hati dari adik saya Satiya dan Mega untuk menjenguk orang sakit tanpa piker panjang. Iqro=membaca dari Ibu saya tentang pentingnya menghormati dan mengasihi sesama. Sesungguhnya Allah saja yang memiliki semuanya, Allah saja yang memberikan masalah, Allah pula yang menyelesaiakannya.
Terimakasih Ibuku, adikku Satrya dan Mega.
Terimakasih Pak Pur dan Bu Mega
Terimakasih pelajaran “Iqra”nya
Giri Bayu Kusumah
Ramadhan 2012