Belajar Menerima Yang Tidak Cocok

Oleh Didik Madani, Motivator – Master Trainer PIES POWER 081231899910

 

 

Ini adalah satu dari sekian banyak cerita, anda mungkin pernah dan sedang dalam kondisi seperti ini. Jangan khawatir, hadapi dan nikmat saja.

Suatu saat anda mulai membangun bisnis, karena keinginan unutuk besar anda menambah modal dengan meminjam bank dengan agunan rumah anda, karena kesalahan managemen, mengakibatkan bisnis anda jatuh bangkrut  total, anda harus membayar cicilan kredit dari rumah, disaat  yang sama anak-anak anda jatuh sakit sementara istri anda juga sudah mulai tidak tahan dengan debt collector yang silih berganti datang kerumah, andapun sudah dibantu oleh orang tua semampunya, 3 bulan anda mampu bertahan dengan tutup lubang gali lubang, namun akhirnya ada surat dari bank yang berbunyi: “Angsuran rumah anda sudah jatuh tempo 3 bulan, mohon di bayar kewajiban anda atau rumah kami sita”, tiba-tiba anda teringat bahawa anda masih punya piutang dari seorang rekan binis anda yang sudah 1 tahun belum membayar, keesokan harinya anda pergi dengan semangat dan harapan, namun harapan anda kandas, karena rekan anda belum membayarnya, meski dia tergolong berkecukupan karena mempunya lebih dari satu mobil, namun setiap anda menagihnya tetap dijanjikan saja. Mobil kreditan anda akhirnya anda jual dan hasilnya anda buat untuk membayar angsuran rumah, karena sudah tidak mempunya kendararn andapun meminjam sepeda motor saudara secara bergantian jika dia tidak menggunakannya.

Anda terus memutar otak untuk keluar dari lilitan utang itu, tiba-tiba anda teringat kembali seorang rekan bisnis lain yang dulu pernah anda pinjami modal kerja dengan mencicil sebanyak Rp. 100 juta selama 1,5 tahun, sejenak andapun bernafas lega dan beraharap penuh bahwa dia akan membalas budi anda dengan menolong dengan bergantian meminjami anda uang untuk mneyelamatkan rumah anda dari sitaan bank, namun harapan anda pupus karena dia tidak bisa membantu anda, lagi-lagi anda harus menahan kekecawaan anda.

Disisi lain keluarga besar anda sudah mengetahui kondisi anda, sebagian ada yang mensupport  dengan moral, sebagian lain menjauh. Tetanggpun mulai kasak kusuk dengan kondisi anda. Sebagai tulangpunggung keluarga anda terus mencari peluang bisnis dengan mengerjakan apa saja yang anda bisa dengan menawarkan diri sebagai konsultan, anda mulai menawarkan diri dari satu teman-ke teman lain, namun tidak cukup juga hasilnya untuk menutupi tagihan dan kebutuhan anda, sampai anda mengungsikan anak istri anda ke rumah mertua.

Saat itu sempat terpikir untuk melamar menjadi pekerja di perusahaan seperti dulu lagi atau menjadi apa saja (sopir taxi, jual es, atau apapun), tapi niat itu anda urungkan karena tidak ada yang mau menerima anda dengan gaji sesuai kebutuhan anda, anda terus memutar otak, bekerja, keluar rumah, pergi pagi buta dan pulang larut sambil terus berdoa agar Tuhan memberikan mukjizatnya, sampai tiba-tiba ada Handphone anda berbunyi tanda SMS masuk dan itu dari istri anda: “Mas aku capek dengan kondisi ini, anak-anak sakit, aku malu didatangi tiap hari oleh debt colector, aku malu dengan orang tua, sebaiknya kita hidup sendiri-sendiri saja, biarkan anak-anak ikut aku”. Saya terdiam, tak sadar air mata meleleh, teringat wajah anak-anak anda yang sedang sakit…Ya, tulisan ini adalah kisah saya yang saya alami, sengaja saya ingin berbagi agar adan tidak sampai seperti saya, bagi yang sudah berhasil bangkit mereka layak kita jadikan guru-guru kita.

Saya ingin berbagi tentang pentingnya mengakui kesalahan dan meneguhkan kebenaran-kebenaran dari orang-orang yang kita cintai untuk kita perjuangkan kembali. Saya ingin berbagi tentang managemen menerima hal yang tidak cocok dalam hidup, saya ingin berbagi keikhlasan, Ikhlas mengakui bahwa semua hanya titipan, ikhlas mengakui bahwa kita tidak punya apa-apa, sekarang atau nanti semua akan diambilNya, kapan saja Dia suka, menikmati apapun yang kita miliki saat ini sangat menentukan tingkat kebahagiaan kita, menyadari dari mana kita berasal dan mau kemana kita akhirnya akan membuat kita sadar bahwa tidak ada di dunia ini yang kebetulan. Saat kondisi itu terjadi saya yakit Allah sedang menaikan kelas kita. “Tuhan sedang mendidik kita untuk menjadi pelaut tangguh dari ganasnya ombak dan badai”

Banyak orang pasti mengalami hal ini dengan berbagai versi, banyak yang berhasil bangkit dan jauh lebih sukses, dengan doa dan usaha mereka bergerak dan semakin tertantang untuk maju. Namun tidak sedikit yang jatuh berakibat pada perpisahan rumah tangga dan anak menjadi korban, mereka terpuruk dalam kondisi yang mengenaskan, stress mengucilkan diri, menghilang , bunuh diri, atau gila.

Setelah bergai usaha yang baik kita lakukan, tidak ada yang bisa kita lakukan kecuali berkomuniasi berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait dengan jujur, meminta dukungangan dengan orang-orang yang kita cintai, istri, suami, orang tua, saudara, meminta maaf kepada mereka adalah cara terbaik mempercepat turunnya bantuan Allah…

Jika semua yang kita kehendaki, terus kita miliki, bagaimana kita belajar Ikhlas.
JIka semua yang kita impikan segera terwujud, darimana kita belajar Sabar.
Jika setiap doa kita terus dikabulkan, bagimana kita dapat belajar Ikhtiar.
Seorang yang dekat dengan Tuhan, bukan berarti tidak ada air mata.
Seorang yang taat pada Tuhan bukan berarti tidak ada kekurangan , seseorang yang tekun berdoa, bukan berarti tida ada masa sulit.

Ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kita sedang belajar tentang ketulusan, ketika usaha kita dinilai tidak penting, maka saat itu kita sedang belajar keikhlasan, ketika hati kita terluka sangat dalam…, maka saat itu kita sedang belajar memaafkan. Ketika kita lelah dan kecewa, maka saat itu kita sedang belajar tentang kesunnguhan, ketika kita merasa sepi dan sendiri, maka saat itu kita sedang belajar tentang ketangguhan, ketika kita harus membayar biaya yang sebenarnya tidak perlu kita tanggung, maka saat itu kita sedang belajar tetang kemurahan hati, tetaplah semangat, sabar dan tersenyum, karena kita sedang menimba ilmu di universitas kehidupan.

Biarlah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya atas hidup ini yang menyaksikan, bahwa kita memang sunggh-sungguh berbuat, karena Dia tahu yang tepat untuk memberikan yang terbaik.

“Manusia diciptakan dalam kondisi terbaik dan setinggih-tingginya, kemudian diturunkan dalam kondisi serendah-rendahnya, bagi mereka yang terus bekerja sungguh-sungguh dan yakin dan percaya, akan disediakan kehidupan terbaik dan tak disangkah-sangkah sebelumnya”.

Leave a Comment

Scroll to Top