Menyelesaikan Kematian Ayahanda Tercinta
H. Parmono Bin H. Parto (Alm) Tokoh Masyarakat, Ulama Samuda, Sampit, Kalimantan Tengah
Suatu hari hari tiba-tiba telepon genggam berbunyi dari adik saya..kring..kring, terdengar kabar jika Bapak akan dioperasi di Jakarta, seketika hati tidak menentu penuh tanya bagaimana kabar selanjutnya, belum selesai membayangkan keadaan beliau, tiba tiba ada kabar susulan jika Bapak sudah tiada. Inalilahi Wainailaihi Rojiun…Air mata meleleh…Siang itu saya seperti orang kebingungan karena merasa sangat kehilangan, satu persatu teringat kenangan bersama Bapak tercinta. Air mata kembali menetes…segera saya memesan tiket penerbangan, karena jenasah Almarhum akan dimakamkan ditanah kelahiran yaitu kota Samuda, Sampit, Kalimantan Tengah. Alhasil penerbangan ke kota Sampit juga sudah penuh selama 2 hari, terpaksa harus menunggu 2 hari. Sementara jika melalui jalur laut juga tidak mungikin karena akan semakin lama, Saya hanya bisa mendoakan sambil berharap akan ada pembatalan tiket dari penumpang lain yang mungkin bisa saya beli..tapi ternyata tidak saya dapatkan.
Tiap kematian pastilah membawa duka, apalagi jika kematian itu menimpa orang terdekat kita, mungkin orang tua kita, suami, istri, anak-anak atau saudara-saudara kita. Setidaknya ada beberapa hikmah yang saya dapatkan dari menyelesaikan kematian Bapak saya diantaranya:
1. Suami VS Istri Wajib Kompak
Kematian mewajibkan pasangan suami istri untuk saling berbagi informasi dan keputusan tentang apapun (khususnya soal utang piutang) karena ketika jika salah satu dari mereka meninggal yang pertama harus menanggung adalah pasangan kita dan anak-anak mereka. Saat Bapak meninggal, hamppir satu hingga dua minggu ke depan kami para anak-anak harus menyelesaiakan hutang piutang Almarhum, ada yang mengaku telah di hutangi Almarhum 4 bulan yang lalu dengan hanya membawa bon baru mereka buat, sementara ada juga yang cukup menyamapaikan lewat lisan saja dan meminta uangnya dibayar. Sementara yang menghutang pada Almarhum (masuk dalam daftar piutang) hanya satu orang yang datang mengembalikan hutangnya sementara sisanya belum ada kabar.
2. Memperat Silaturahmi
Almarhum adalah orang tua sambung saya, sebelumnya Bapak mempunyai 7 anak dari ibu tua, selama ini kami para anaknya tidak berkumpul dalam satu rumah, saya di Jawa Timur sementara yang lain banyak di berdomisili di Kalimantan. Diantara kami jarang bertemu, baru saat kematian Bapak semua saudara berkumpul, suasana duka bercampur perkenalan satu sama lain, mulai dari adik , kakak, om, tante, sepupu serta para anak istri.
Ketiadaan Bapak telah mempertemukan kami dalam keluarga besar yang saling membutuhkan satu sama lain.
EPOS Almarhum Jadi Magnet
Kita pasti sering menjumpai kematian seseorang tidak banyak di pedulikan oleh tetangganya, mungkin saja yang meninggal adalah seorang penjudi, pemabuk atau sejenisnya. Melihat kondisi ini kitapun pasti acuh tak acuh, sebagian lain berkata: “lebih baik meninggal daripada hidup merugikan orang lain”, namun sebagian lain juga mengatakan: “sayang sekali meninggal dunia belum sempat bertobat”. Sebaliknya jika orang yang dikenal baik di lingkungan sekitar, pastilah banyak yang menyayangkan kepergiannya. Setidaknya ukuran kebaikan seseorang akan terlihat dari seberapa banyak tetangganya yang mereasa kehilangan, mereka biasanya ikut berbela sungkawa hingga menghadiri proses pemakaman. Ini pula yang terjadi pada proses pemakaman Almarhum, sebelum meninggal Almarhum dikenal sebagai seorang pemuka agama di kecamatan Basirih Hilir Samuda, Sampit. Mulai dari tetangga sekitar bahkan Kepala Daerah juga ikut berbela sungkawa, karangan bungapun berjajar. Energi Positif seseorang semasa hidupnya berbuah pada kepedulian mereka hingga mengantar pada pemakaman.
Meneguhkan Jati Diri
Kematian merekatkan silaturahmi,mengingatkan siapa sejatinya diri kita, dari mana kita berasal dan mau kemana kita selanjutnya lalu apa yang harus kita perbuat sebelum kita dipanggilnya.
Tak seorangpun dari kita yang tahu, kapan kematian itu datang menjemput. Hari ini, esok, atau lusa. Kematian selalu memberikan hikmah untuk kita yang masih hidup.
Kematian pastilah menyisakan isak dan tangis. Kesedihan bagi orang yang ditinggalkan, namun hal terpenting dari itu bagaimana kita memahami hikmah kematian tersebut. Mempersiapkan diri dengan kesempatan hidup yang masih kita miliki.
Saya dan Anda pasti pernah ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai. Meninggal dalam usia muda atau tua. Ya, sampai disitulah masa hidup yang diberikan Allah kepada orang-orang yang kita cintai. Kematian mengingatkan kita bahwa tidak ada yang abadi di dunia kecuali Allah Maha pemilik keabadian. Betapapun capaian duniawi yang kita miliki hanya sebagian saja yang bisa kita nikmati saat itu.
Kita perlu mencontoh kehidupan kaum Samurai pada masa kaisar Meiji, mereka lebih dikenal dengan ”The Las Samurai”, mereka punya prinsip bahwa keidupan itu laksana bunga sakura yang mekar selama tujuh hari untuk kemudian gugur. Bagi kaum samurai hidup itu sangat singkat, ini tercermin dalam keseharian mereka, dimana sejak mereka bangun hingga tidur selalu melakukan kegiatan dengan sepenuh hati, mereka selalu hormat dengan sesama dengan membungkukkan badan, mereka mempunyai tradisi yang santun dalam minum teh sebagai pengormatan kepada tamu, bahkan mereka punya gerakan yang indah saat memasukan pedang ”katana” dalam sarungnya. Semuanya mereka lakukan dalam rangkah pengabdian dalam menyongsing kematian kapanpun, mereka seolah-olah melihat kematian tiap detiknya.
Hidup adalah Proses
Hidup adalah Belajar
Tanpa ada batas Umur
Tanpa ada Batas Tua
Jatuh Berdiri Lagi…
Kalah Mencoba Lagi
NEVER GIVE UP
Sampai Tuhan berkata:
”Waktunya Pulang”
Menyelesaikan Kematian menyisakan pertanyaan, siapkah saya meninggal satu jam lagi?
Selamat Jalan Ayahanda Tercinta H. Parmono Bin H. Parto, Tokoh Masyarakat, Ulama Kota Samuda, Sampit, Kalimantan Tengah.
*Samuda, Sampit, Kalteng 12 November 2012