Saat kecil saya tinggal bersama Mak dan 3 orang adik saya, kakek yang biasa saya panggil Bapak bekerja sebagai tukang becak, sementara Mak adalah tukang pijit capek dan bayi. Meski dalam kekurangan, saya sangat menikmati kehidupan di kampung itu.
Kekurangan ini membuat saya untuk memberanikan diri hijrah ke melajutkan sekolah SMA dan tinggal besama Bpk Mucdlor Rosyid (Almarhum). Layaknya seorang anak kepada bapaknya saya memanggil papa seperti 3 orang kakak tiri saya, 1,5 tahun saya tinggal dalam keluarga baru saya, saya merasa perbedaan. Satu tahun pertama saya tidur dikamar rumah utama, karena mungkin saya dianggap bandel, akhirnya saya diperintahkan untuk tidur di salah satu kamar yang biasa digunakan para sopir (mirip gudang) sayapun tidur disalah satu kamar tersebut yang bersebelahan dengan pembantu rumah kami. Bangunan itu terasa panas tatkala hari mulai siang, karena atapnya terbuat dari seng, sementara bagian bawah adalah bengkel tempat parkit mobil truk gandeng. Saat itu juga ada 2 sepupu saya yang juga satu angkatan sekolah bersama, namun mereka tetap tidur di kamar bangunan utama.
Suatu hari saya mengalami sakit demam hingga tidak bisa sekolah, ini membuat saya tidak bisa keluar kamar karena jika berjalan terasa pusing dan mau pingsan, hari menjelang siang, semakin terasa panasnya dikamar berukuran 3 x 3 meter itu, ditambah perut rasanya melilit karena belum makan, tidak ada orang tahu termasuk pembantu yang ada di sebelah kamar saya pun tidak mengetahuinya. Saya hanya bisaberdoa supaya ada orang yang membuka kamar saya dan segera member saya obat dan makanan, namun hingga 5 jam kedepan tak kunjung ada yang datang, sambil menahan lapar sayapun tertidur, hingga akhirnya lamat-lamat terdegar suara langkah seseorang menaiki tangga, lama saya 15 menit saya tunggu tidak kunjung melihat saya, sampai akhirya pintu kamar saya terbuka pelan, kontan laki-laki itu membawa satu mangkok bakwan dan obat demam.
Sampai sekarang saya tidak pernah lupa kejadian semamngkuk bakwa itu.
Rejeki Allah tidak akan tertukar, dia hadir pada saat yang tepat saat kita membutuhkan. Allah mendengar doa saya. Doa saya kepada Allah “Datangkan makanan secepatnya”.
Allah selalu tepat waktu.
Didik Madani 1994