Kuah Basi Bikin Marah Bapak

Oleh : Didik Madani

Karena keluarga kami saat itu paling miskin dikampung, maka sering menjadi sasaran langganan penyaluran sedekah para dermawan. Sebut saja Bu Iya, bu Iya adalah keluarga paling kaya di kampungku, dia punya hoby memberikan makanan kepada para tetangga,makanan itu adalah makanan sisa kemarin yang kelebihan, biasanya makanan bisa berupa kue, nasi kotak, kolak, makanan ringan atau kuah.

Saat itu hari minggu, seperti biasa Mak belum pulang dari memijit orang sejak pagi buta, jam menujukkan pukul 10.00 WIB, tapi Mak belum pulang juga, tiba tiba dari ujunggang terlihat pembantu Bu Iya berjalan dengan membawa panic tempat kuah, panci itu sudah terlihat using dan sudah berwarna hita karena sering dipakai untuk menghangantkan, saya sudah mengiri kalau pembantu bi Iya akan menuju rumah kami, betul juga perkiraanku, bu Iya memberikan Panti itu kepada adik perempuanku, spontan aku senang karena perutku sudah lapar. “Asyik ada makanan datang”, segera aku bergegas ke dapur, aku ambil nasi yang sudah sejak pagi masak, dan hendak mengambil kuah pemberian bu Iyah. Tapi tiba-tiba Bapak (panggilan saya untuk kakek) keluar dari belakang rumah sambil memasang raut muka dingin tanda marah.

Saat itu pembantu Bu Iya masih belum pulang dan masih ada disekitar rumah, Dengan nada tegas Bapak mengatakan “Ja, ngomongo karo bu Iya yo..ojok mrene mane lek Cuma ngekeki dodoh mambu nang keluargaku, masio awak dewe dorong mangan sarapan tapi nduwe harga diri, mending kelaparan timbangane mangan dodoh mampu koyok ngene.”(Bilang sama bu Ya, jangan pernah agi memberikan kua basih kepada keluarga kami, meski kami belum makan tapi kami masih punya harga diri, lebih baik kelaparan daripada harus mekan kuah basih seperti ini”.

Saya dan adik-adaik hanya bisa menonton saat bapak marah kepada pembantu bu Iya, sambil masihmembawa piring kami melihat bapak membuang uah basi itu ke selokan rumah yang ada di depan rumah. Tanpa sadar akhirnya saya tidak jadi lapar dan memutuskan unutk menonton film Si Unyil ditetangga sebelah rumah karena kami tidak punya pesawat televisi.

Setengah jam kemudian ada suara memanggil “Dik…ayo pulang mak bawa kacang dan roti” aku langsung bangkit dari duduk karena kusadari itu suaran mak yang sudah pulang dari tugas meminit orang.

Kini Bapak (Kakek saya) sudah almarhum pada tahun 1997

Leave a Comment

Scroll to Top