Usai lulus SMA tahun 1996 saya memutuskan untuk kembali pulang ke rumah mak di kampung pinggiran surabaya, jangankan berangan-angan untuk kuliah, bekerja sebagai apa saja tidak pernah terbayangkan, yang terpikir waktu itu adalah segera pulang karena kangen dengan mak dan 3 adik saya. Hari demi hari saya lewatkan bersama Mak, bapak dan adik adik. Karena di kampung saya tempatnya judi merpati sayapun ketularan hoby jadi “penerbang” itu. Tak terasa sudah 4 bulan lebih menganggur membuat saya bosan dan membuat mak jadi sering ngomel.
Alhamdulillah akhirnya ada seorang teman kampung menawari pekerjaan kapada saya, “Dik awakmu gelem kerjo melok aku tah?” (Dik, kau mau kerja bersama dengan saya kah?), tanpa pikir panjang kujawab “ya”. Aku balik bertanya: “Kerjoe opo se?” (Kerjanya apa sih?), teman saya menjawab dengan ringan, “biasa..ya kuli batu.” Saya pun terdiam. Otak saya langsung berpikir: apa tubuhku yang kerempeng ini kuat mengangkat..”ah tanpa piker panjang akhirnya saya putuskan untuk menerima pekerjaan itu”.
Malamnya tidak bisa tidur membayangkan pekerjaan baru yang akan aku laksanakan besok, diam diam (takut ketahuan Mak) aku siapkan baju lengan panjang dan sepatu agar tidak kepanasan saat menjadi kuli batu keesokan harinya. Disamping itu juga takut ketahun bapak karena jika mereka mengetahui pastilah mereka melarang dan malu karenanya.
Pagi itu pukul 06.30, bergegas aku bangun dan sarapan, kebetulan sekali pagi itu mak sedang menggoreng tahu tempe. Mak sempat menanyakan kok tumben pagi sekali sarapan mau kemana, ku jawab ada pekerjaan mak. Dengan tersenyum mak menjawab, “Alhamdulillah, kalau kerja hati-hati tidak boleh neko-neko”.
Ternyata yang dibangun adalah sebuah rumah 2 lantai, dimulailah pekerjaan dengan pembagian tugas, saat itu saya kebagian tugas mengangkat timbag yang sudah diisi adonan semen, 2 jam pertama masih belum terasa capek, menjelang 3 jam berikutnya tangan ini mulai perih dan panas menyengat, karena malu dengan teman-teman kuli lainnya, saya tetap menahan bertahan, puncaknya saya tidak tahan juga dan hampir pingsan, akhirnya saya meminta ijin mandor untuk pulang karena sudah tidak kuat lagi, tangan saya lecet dan badan lemes, si mandor akhirnya memberi semangat untuk terus melanjutkan pekerjaan karena pekerjaan tinggal sebentar lagi, sayapun diberi posisi yang tidak begitu sulit yaitu merancang kawat sebagai penguat adonan semen. Meski panas namun tidak seberap capeknya hanya menahan rasa panas saja. Tak terasa jam menunjukan pukul 4 sore dan waktunya pulang.
Puncaknya, sebelum pulang kami para kuli dikumpulkan untuk diberi upah satu persatu, tiba giliran saya diberi amplop, Alhamdulillah…rasa capek dan panas seketika berganti dengan rasa puas bahagia karena menerima gaji pertama.
Saya buka isi amplop, gaji pertama saya sebesar Rp. 10.000 (Sepulu Ribu Rupiah) Alhamdulillah ya Allah..inilah gaji pertama saya, bergegas saya pulang dan saya berikan kepada mak saya tercinta. Malam itu saya tidur pulas.
Sudah seminggu saya berkerja sebagai kuli bangunan, tapi kali ini saya memutuksn untuk makan siang di rumah karena bisa mengirit uang makan, siangitu saya makn dengan lahap, tiba-tiba mak saya mendekat dan bertanya, “awakmu kerjo opo dik, kok klambimu karo sikilmu kotor” (Kamu kerja apa di, kok baju dan kakimu kotor) Waktu itu sebetulnya saya tidak ingin menjawab karena saya tahu pasti mak sedih, karena terus menerus ditanya, akhirnya saya mengaku kalau saya kerja sebagai kuli bangunan, dan mohon mak jangan bilang bapak. Air mata meleleh di pipi mak dan memeluk saya.
Didik Madani, Surabaya 1996