Sepatuku Jebol Sebelah

7 Tahun Perjalanan Mencari Jati Diri PIES
July 25, 2012

Sepatuku Jebol Sebelah

Sepatuku Jebol Sebelah

Saat itu musim hujan tiba, seorang anak laki laki berusia 10 tahun keluar dari gang sempit dikawasan perkampungan kumuh di Jalan Kedung Cowek Surabaya (sekarang Jalan Suramadu), hujan memang belum turun,hanya terlihat mendung yang mulai menebal. Segera anak itu lari dari ujung gangnya menyusuri pinggiran sungai menuju sekolah yang jaraknya kurang lebih 45 menit dari rumahnya.

Belum sampai di halaman sekolah hujan turun deras,  si anak memutuskan berhenti karena tidak membawa jas hujan, saat itu dia beripikir jika dia terus berlari pastilah sampai di kelas basah kuyup, dan bu guru tidak memperbehkanmasuk, maka di putuskan untuk berhenti dengan harapan hujan segera reda.

Menepi di salah satu teras rumah warga sambil berdoa agar hujan segera reda dan dirinya bisa bisa melanjutkan kembali perjalanan menuju sekolahnya, tanpa dia sadari setengah badannya juga sudah mulai basah karena percikan air hujan yang menempa.

Hujan tidak reda-reda, hingga 1 jam kemudian, akhirnya anak itu memutuskan tidak masuk kelas, karena malu. “Aku pasti dilarang masuk kelas karena bajuku basah, ditambah lagi aku risih karena sepatuku kemasukan cacing karena bagian depannya terbuka alias jebol”.

Akhirnya dia menghabiskan waktu hingga 4 jam kemudian untuk kemudian pulang kerumahnya, dia habiskan waktu di jalan dengan tujuan “mak”nya tidak mengira dia bolos sekolah. Anak itu bernama Didik Madani.

“Kita dinilai dari apa yang kita lakukan bukan dari yang kita pikirkan”.

Didik Madani, 1986